Showing posts with label media sosial. Show all posts
Showing posts with label media sosial. Show all posts

Sunday, November 16, 2014

Kamu & Media Sosial

Berada dalam suatu forum, kamu pasti pernah memperhatikan tingkah laku gerak gerik orang lain kan? Terutama ketika mereka sedang bertanya atau mengutarakan pendapat. Lalu berdasarkan itu dengan mudahnya kamu akan menilai kepribadian mereka, "Ih pertanyaan si anu ga penting banget deh, cari muka!" atau "Yaelah ni orang ga update amat, seantero negeri uda tau kali isu yang itu". Padahal mungkin aja apa yang mereka kemukakan murni karena ketidaktahuan atau justru ingin menggali informasi secara lebih mendalam.

Yes, semudah itu. Eh kayanya saya pernah bahas ini juga deh, seberapa mudah kamu menilai seseorang hanya dari rekam jejaknya di media sosial. Gapapalah ya saya bahas lagi. Kali ini mau ngomongin tipe-tipe orang diliat dari aktivitas akun media sosialnya. Jieeee. Berasa kaya orang bener nulis ginian. Haha.

Setiap pemilik akun media sosial pasti punya ciri tertentu. Ada yang hobi update status. Ada juga yang punya kecenderungan oversharing padahal hari-harinya pendiam. Disisi lain ada juga yang akunnya kurang aktif atau malah ga punya akun sama sekali atau punya akun cuma buat stalkingin orang lain. Haha. *kabur diem-diem*

Mungkin ga sih usia menentukan seseorang tertarik atau ga nya pada media sosial?

Info dari majalah yang saya pernah baca, menurut salah seorang psikologi, usia turut menentukan. Saat remaja biasanya seseorang cenderung mencari teman dan komunitas sebanyak-banyaknya. Tapi semakin dewasa seseorang, jaringan pertemanannya menjadi sempit karena keterbatasan waktu. Ujung-ujungnya ya kalaupun mereka punya media sosial, udah pasti ga keurus, jadi pasif gitu.

Bagi mereka yang pasif di media sosial, kadang ga masalah cuma punya sedikit teman yang penting berkualitas. Dan biasanya mereka juga lebih memilih untuk bicara langsung ketimbang bicara melalui media sosial jika ada yang ingin disampaikan. Basicnya sih mereka ga doyan sharing, jadi walaupun punya media sosial timelinenya pasti miskin postingan. *ngaca*

Lain lagi sama mereka yang rajin posting. Dikit-dikit check in lokasi, posting foto, atau sekedar menyampaikan ide. Kesannya haus perhatian. Iishh, tapi mereka ga salah juga kali. Sah-sah aja kalo mereka hobi curhat atau pajang foto selfie. Udah jadi kebutuhan dasar manusia kan kalo selalu ingin diperhatikan. Lagipula bikin media sosial buat apa coba? Ya buat diliat dan dihargai orang lain dong. Justru interaksi ini yang buat media sosial jadi keliatan menarik. Kalo mau diem-dieman ajamah masuk kamar tutup pintu, ga usah bikin media sosial *merenung dipojokan*.

Saya ga boleh mencap mereka yang aktif bermedia sosial haus akan perhatian juga kan. Beberapa orang mungkin memang harus aktif di media sosial untuk mendukung karir mereka. Kalo kamu ga suka ya tinggal di unlike, unfollow atau unshare aja.

Selain yang saya ceritain di atas, ada beberapa karakter pengguna media sosial lainnya. Seperti yang saya baca dari sebuah majalah dan disadur dari Telegraph, University of Winchester Inggris. Nih saya tulisin buat kamu dengan bahasa saya yang ala kadarnya. Abis dibaca, tulis dikomen kamu masuk tipe yang mana yah. *berasa ada yang baca*

The Ultras
Mereka ini biasanya bisa ngecek timeline puluhan kali dalam sehari. Bukan cuma ngecek, tapi juga puluhan kali curhat atau posting foto. Buat mereka media sosial itu tempat untuk menunjukkan eksistensi. Tapi bisa jadi seseorang yang cerewet di media sosial padahal pendiam di dunia nyata, menunjukkan dirinya merasa terkekang dengan kondisi saat ini. *puk-puk*

The Dippers
Mereka ini punya akun media sosial tapi jaraaang banget ngakses. Ngakses itu apa ya? Hmm jarang buka gitu. Bahkan update postingan aja bisa sebulan sekali. Buat mereka, sharing sebaiknya dilakukan pada orang terdekat.

The Lurkers
Mereka ini ga pernah mengutarakan pendapatnya sendiri di media sosial. Jadi cuma nyimak kicauan orang lain. Kekecewaan atau kesenangannya terhadap sesuatu biasanya disampein lewat tanda like, favorit, atau love-love dipostingan orang lain. Mereka cenderung cari aman karena ga mau pendapatnya nyinggung banyak orang.

The Informers
Mereka ini sebisa mungkin jadi orang yang pertama yang nyebarin suatu informasi. Tujuannya ya nambahin followers, fans, atau friends. Ini menunjukkan kalo mereka ingin dianggap sebagai seseorang yang peduli terhadap lingkungan sekitar.

The Peacocks
Mereka ini haus perhatian dan popularitas. Mereka menganggap fans, followers, dan friends adalah se-ga-la-nya. Catet. Meski bukan artis ternama atau orang penting di jagad raya ini mereka selalu minta folback dari orang lain yang jadi temennya. "Minta folbeknya eaaa kakak!'", mungkin gitu cara mereka mendekati targetnya.

The Ranters
Mereka ini selalu sharing opini yang relevan dengan kasus tertentu. Mereka biasanya udah malang melintang guling-guling di media sosial sehingga bisa bedain mana yang sebaiknya di sharing atau ga.

The Ghosts
Mereka ini anonim. Iya, ga menggunakan identitas asli sebagai nama akunnya sehingga bebas-bebas aja mau ngasih pendapat, terutama opini negatif ya. Kok kaya pengecut ya. Hmm. *kan ngejudge lagi*

Eniwei, mau gunain media sosial ataupun ga sah-sah aja. Ga da yang bener atau salah. Ga perlu dijadikan suatu keharusan juga sementara kamu ga butuh-butuh amat. Yang harus di garis bawahi untuk pengguna aktif bahwa sepribadi apapun media sosial yang kamu punya tetep aja namanya media SOSIAL, which is media untuk bersosialisasi which is akan ada orang lain yang baca which is anything can be happen, termasuk masuk penjara gara-gara media sosial. Karena ya viral effect dari sosialisasi itu tadi.

Jadi gunakan media sosial sebijak mungkin dan tahan emosi. Kalo mo lebih private lagi ngadu ke Sang Pencipta aja kali yee. *postingan anak solehah* *pencitraan* :D :D :D

Thursday, October 21, 2010

Status facebook untuk pembentukan citra diri

Saya agak gimanaaaaaa gitu bacain status makhluk-makhluk di facebook beberapa bulan belakangan ini. Mulai dari rutinitas bangun tidur - maen - ampe tidur lagih *masaoloh*, curhat pacar, ampe komplen ama Tuhan juga dipajang. Belum lagi yang kata statusnya tu orang lagi sakit parah tapi ko ya bisa mencet status segitu panjang. Jadi takjup setakjup-takjupnya saya sama mereka-mereka ituh.

Bukan salah mereka yang suka naro status aneh-aneh, mungkin saya aja yang seharusnya ngedelete mereka dari friendlist saya. Hahaha. *evilgrin*

Sampek kadang-kadang orang yang tadinya saya ga kenal-kenal banget, jadi merasa akrab gara-gara dia pasang status tiap tiga jam sekali *ampundehyatuhantolong*. Entah dia yang emang ga da kerjaan ataukah itu salah satu citra diri yang pengen mereka bentuk melalui salah satu dari sekian banyak media sosial yang muncul belakangan ini.

Citra diri? Apaan tuh? Media sosial? Naon deui eta?

Okeh. Saya semedi dulu biar dapet wangsit.


Meminjam sebuah istilah lama, media sosial sekarang-sekarang ini lagi naek daun. Tiga sampek empat taun kebelakang, macam media sosial ini bisa diitung pake sebelah jari. Eh sebelah tangan deh. Sekarang muley ada Facebook, Friendster, Wikipedia, YouTube, Flickr, Twitter, Koprol, My Space, Hi5, Multiply dan sederet nama laennya yang saya sendiri ga tauuuuu saking banyaknyah.

Hari gini siapa yang belum punya (salah satu dari) wadah buat berinteraksi, buat posting tulisan, gambar, video, dan audio kaya yang saya sebutin di atas?? Minimal banget facebook pasti pada punya kan?? Iya kan?? Iya dong?? Bener kan?? Bener dong?? *maksa*

Sedangkan secara sederhana citra diri itu gambaran atau potret diri kita. Apa yang kita katakan, yang kita lakukan, yang kita kenakan, yang menjadi prinsip dalam hidup kita, semuanya membentuk sebuah kesan atas diri kita.

Nah, citra diri ini bisa terbentuk dari pembelajaran maupun pengalaman yang pada akhirnya menjadi sebuah keyakinan mengenai siapa sesungguhnya diri kita ini. Keyakinan inilah yang akan terus tertanam di otak dan mengendap di dalam pikiran bawah sadar kita, yang secara sadar atau tidak *hanya orang yang bersangkutan yang tau* dituangkan makhluk-makhluk itu dalam salah satu bentuk media sosial bernama facebook.

Jadi apa hubungannya facebook sama citra diri, Neng Geulissss??

Sabar atuh akang.. eneng.. Saya napas dulu!

Facebook yang awalnya di buat oleh Mark Zuckerberg untuk menggabungkan salah satu komunitas (Harvard College) agar dapat melakukan koneksi dan interaksi, makin kesini jadi berubah fungsi. Di Indonesia sendiri, facebook dimanfaatkan mulai dari bisnis online, kampanye, nambah temen, maen games, cari perhatian, untuk melakukan penipuan atau kejahatan, sampek bisnis esek-esek. *astagpiruloh*

Status facebook, yang mungkin saja kamu update tiap hari, bisa memberikan citra atau image yang positif dan negatif terhadap diri kamu. Yang lebih luas lagi adalah citra terhadap sekeliling kamu, tentunya jika apa yang kamu posting mengenai orang-orang sekitar, atau lingkungan sekitar, atau negara tempat kamu tinggal sekarang. Kamu bisa memilih.

Mencari seribu musuh gampang-gampang saja. Tapi mencari satu kawan yang benar-benar mengerti kamu sangatlah tidak mudah. Apa yang kamu posting, kamu upload, kamu perlihatkan, kamu perdengarkan, kamu sampaikan melalui status bisa saja membuat apa yang kamu punya hilang begitu saja.

Ga perlu ribet-ribet sebenernya cara untuk membentuk gambaran diri yang baik. Hanya perlu sebarkan berita baik, konten yang baik (foto, ilustrasi, video). Status yang informatif, edukatif, inspiratif. Hingga apa yang kamu bagi selain bisa membentuk citra diri kamu jadi lebih positif juga memberikan efek yang baik untuk orang-orang terdekat.

Kembali lagi, adalah hak saya, kamu, dan mereka mau menggunakan media sosial untuk tujuan apa, termasuk untuk membentuk citra diri. Jika tidak suka atau terganggu, yah cukup delete aja dari friendlist, beres kan. Lain halnya jika kamu merasa dirugikan yah, itumah langsung aja laporin ke pak RT. :p

Sekecil apapun hal yang kamu bagi mungkin saja berpengaruh banyak buat orang lain. Meskipun itu hanya sebuah status.


*pic taken from here