Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, August 20, 2009

Beri aku judul

Seperti biasa. Malam itu. Pukul 9 lewat beberapa menit. Aku memilih duduk ditempat biasa. Bangku kedua dari pintu. Sebelah kiri. Dekat dengan jendela.

Aku mengamati melalui kaca jendela yang terbuka. Pedagang rokok dan pengamen jalanan masih bersenda gurau. Tak lama pengamen itu masuk. Menghibur para penumpang berwajah lelah. Tak jarang aku ikut bersenandung dalam hati. Lumayan. Penat dikepala sedikit hilang mendengar petikan gitar.

Pukul 9 lewat 30 menit. Aku mulai meninggalkan terminal. Kondektur mulai menghampiri kami satu persatu. Metromini mulai jalan melambat mendekati stasiun Jatinegara. Tempat yang biasanya tertib berubah jadi pasar pada malam hari. Membuat aku yang ingin cepat pulang sedikit tertahan. Pedagang sepatu. Baju. HP. Aksesoris. Kacamata. Lapak digelar tak peduli sepi pembeli.

Pukul 9 lewat 45 menit. Dibawah by pass Jatinegara. Makhluk makhluk malam mulai bermunculan. Cantik. Tapi pucat. Anggun. Tapi hitam. Putih. Tapi kekar. Tampan. Tapi tua. Senyum. Tapi kosong. Ramai. Tapi sepi. Satu yang aku mengerti. Kita sama sama sedang bertahan hidup.

Muncul pertanyaan dibenak ku. Mereka hidup untuk bertahan? Atau bertahan untuk hidup? Ah apa pula peduliku. Yang pasti aku masih ingin hidup esok hari.

Pukul 10 tepat. Aku masih mengamati melalui jendela. Kini jalanan mulai sepi. Kulihat orang disebelahku sudah terkantuk kantuk. Kepalanya hampir menyentuh bahuku. Cantik. Tapi kantung mata tak bisa menyembunyikan lelahnya. Aku melihat sesuatu menyembul dari balik tasnya. Apa itu?

Aku menengok kekiri. Jalanan masih lengang. Malam tetap anggun dimataku meski sepi. Menengok ke kanan. Gadis cantik itu masih tertidur. Kursi di belakang sudah kosong. Penumpang yang lain juga sudah turun. Hanya tinggal beberapa. Termasuk aku dan gadis cantik disampingku.

Pikiranku kembali mengawang. Banyak pertanyaan berkelebat dibenakku. Masih bisakah aku menumpang metromini ini besok malam? Atau ini malam terakirku? Aku tak sabar ingin pulang. Tapi pulang kemana? Pulang pada siapa?

Ah, sebentar lagi aku turun. Kukeluarkan secarik kertas dari tasku. Lalu mulai menulis ditengah guncangan bis yang semakin brutal. Selesai. Kuselipkan kertas itu didalam tasnya. Tanganku gemetar. Tapi aku tak punya pilihan. Aku harus bertahan.

"Maaf mba, saya mau turun"
"Oh iya, sebentar"

Pukul 10 lewat 30 menit. Aku menjejakkan kaki ditanah. Masih basah. Bekas hujan semalam. Aku membersihkan nisan yang tertutup percikan tanah merah. Lirih aku berbisik.

"Maaf aku baru pulang, Ma."


Epilog:
Gadis cantik itu turun di halte terakhir. Kantuk masih melanda kepalanya. Dia segera menaiki angkot menuju rumahnya. Tubuhnya baru saja terduduk. Tangannya bergerak mengambil uang di dalam tas. Dan dia menemukan kertas itu.
maaf mba, saya pinjam uang mba. saya butuh uang untuk bertahan hidup. nanti saya kembalikan begitu saya punya pekerjaan yang layak. mohon maaf lahir batin ya mba.
"Sial! Gw kecopetan!"

Gadis itu merutuk dalam hati. Dia segera turun sebelum angkot itu jalan.

"Bang, ojeg!"

Tuesday, October 21, 2008

Maaf

Azalea
Pagi ini aku tiba-tiba terbangun dari tidurku. Entah karena udara pagi yang dingin atau karena gelisah yang kurasakan sejak setahun belakangan yang membuatku terbangun. Aku menggeliat sedikit lalu melihat jam di HP ku. Masih pukul 6.30. Aku segera turun dari tempat tidur dan terduduk sebentar dilantai. Setelah itu, aku berdiri menuju jendela kamarku. Kulihat diluar sana rintik hujan mulai membasahi bumi. Tumben, pikirku. Setelah sekian lama kotaku tak pernah diguyur hujan. Kali ini, jakarta seakan menangis.

Kubuka pintu dalam kamarku yang menuju teras. Tak seperti biasanya, sebelumnya aku tak pernah ingin berada disini. Tapi entah mengapa hari ini aku ingin sekali menikmati hujan disini, diteras ini. Aku duduk, lalu terdiam. Mataku tak ubahnya bagai mata kucing dikegelapan malam yang terus mengawasi seakan melihat musuh dikejauhan. Satu persatu ku amati rintik-rintik hujan yang jatuh didahan pohon. Aku sangat suka suasana pagi ini. Pohon-pohon bergelayut manja disiram hujan. Jalanan juga terlihat hitam pekat. Bau tanah basah sangat menusuk hidung. Lalu aku bertanya pada diriku, kemana saja aku ketika rintik hujan jatuh waktu itu?

Waktu itu aku masih terlalu lemah untuk mencium bau tanah basah ini. Waktu itu aku lebih suka bermain bersama mereka daripada terdiam melihat hujan. Waktu itu yang ku tahu aku hanya ingin berlari tanpa menoleh kebelakang. Dan lalu aku menyadari, aku tak bisa terus berlari.

Abimanyu
Tiba-tiba aku terbangun. Samar kudengar rintik hujan diluar sana. Entah kenapa aku bermimpi lagi tentangnya. Ini bukan yang pertama. Dalam mimpiku, aku berada dalam hujan dan memegang erat tangannya. Mungkin ini hanya bunga mimpi. Mimpi yang terus menerus datang, mungkinkah?? Aku tak bisa terus berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja. Aku tau aku telah menyakitinya. Menyakiti wanita yang dulu pernah sangat aku sayangi. Wanita yang dulu pernah aku jaga, walaupun aku tak menjaganya dengan baik hingga dia pergi.

Mataku menerawang ke langit-langit kamar. Aku teringat dirinya. Apakah dia baik-baik saja setelah kejadian waktu itu. Apakah dia masih ingat padaku. Apakah dia membenciku. Terakhir aku menghubunginya, dia masih sama seperti dulu. Masih bisa tertawa lepas mendengar jokes ku yang tidak lucu. Itu salah satu yang membuat aku tidak ingin melepaskannya. Namun sudah dua bulan terakhir ini tak ada kabar darinya. Dia tidak menghubungiku dan aku juga tidak berusaha untuk menghubunginya. Dan dia terus hadir dalam mimpiku.

Azalea
Aku sudah lebih baik sekarang. Kurasa. Awan memang tak pernah sehitam ini. Namun aku harus terus melanjutkan hidupku. Aku tidak akan selamanya berlari bukan. Ada saatnya dimana aku harus menoleh sebentar kebelakang untuk mengetahui sudah seberapa jauh aku berlari. Ternyata sudah teramat jauh.

Kenangan itu memang sudah lewat, namun masih terasa nyeri disini. Aku tau itu bukan sepenuhnya salahnya. Ada andilku di dalamnya. Tapi bukan itu yang membuatku berlari. Bukan. Saat aku baru merangkak, dia sudah berdiri. Dia masih sama seperti dulu. Begitu rapuh hingga perlu penopang. Secepat itu dia menggantikanku.

Abimanyu
Aku memang sudah menemukan penggantinya. Wanita yang akan menjagaku selamanya. Semoga. Tapi wanita itu tidak akan pernah menggantikan tempatnya dihatiku. Tidak akan pernah. Dia tidak akan pernah tau itu. Betapa sebenarnya dia yang aku butuhkan, bukan wanita itu. Betapa aku sangat ingin mengulang hari-hari indah itu bersamanya. Betapa aku sangat merindukan tawanya. Betapa aku sangat ingin dia berada di sampingku, sekarang. Tapi tak mungkin!! Aku tak mungkin mengulang kesalahan yang sama. Saat ini yang kubutuhkan hanya seuntai kata maaf darinya. Maaf yang benar-benar tulus. Mungkin hanya itu yang bisa membuatku bisa terus melanjutkan hidupku. Tapi mungkinkah dia masih mau memberikan maaf itu? Sementara aku hanya terdiam disini. Dikamar ini.

Azalea
Aku sudah memaafkannya. Sungguh. Walaupun terkadang aku ragu, apa benar aku sudah memaafkannya. Aku tidak pernah marah padanya. Aku tidak ingin membencinya. Aku ingin dia menjadi sahabatku, tapi aku tidak bisa!!

Aku sudah mencoba berdamai dengan kenangan itu. Mencoba memaafkan diriku. Mencoba memaafkan dirinya. Mencoba menengok ke belakang sebentar untuk melihat apakah aku sudah siap untuk melanjutkan hidupku lagi.

Kini aku siap. Aku sudah memaafkan mu Bima. Kini maaf sudah kuberikan. Tulus dari dasar hatiku. Walaupun dia tidak akan pernah tau, karena dia terlalu egois untuk meminta padaku. Kini aku akan melanjutkan perjalananku. Mungkin tidak dengan berlari. Karena aku sudah lelah. Mungkin aku akan berjalan pelan sambil menikmati pemandangan disekelilingku.

Aku harap kau bahagia dengannya. Aku tahu kau akan selalu berusaha membuatnya tersenyum. Aku tahu kau sedang berusaha memperbaiki semua dengannya. Semua hal yang tidak bisa kau perbaiki sewaktu menjalaninya denganku. Tapi dia bukan aku Bima. Ingat itu.

Abimanyu
Mungkin aku memang egois. Sebagai pria aku pantas untuk merasa begitu bukan. Tapi keegoisan ini menyiksaku. Apa aku harus menghubunginya. Akh, mungkin dia sudah tidak menginginkanku hadir dalam hidupnya. Atau mungkin dia sudah menemukan penggantiku. Apa reaksinya jika aku meminta maaf padanya. Aku tidak sanggup!!

Lea, aku mohon maafkan aku. Aku tak sanggup jika harus menemuimu. Hanya maaf Lea. Maaf.

Epilog
Hujan bertambah deras. Dan udara bertambah dingin pagi ini. Lea beranjak dari kursinya. Dan Bima terlelap lagi dalam tidurnya. Berharap dalam tidurnya kali ini dia akan bertemu Lea lagi dan sempat mengucapkan kata maaf itu. Hujan tak pernah sederas hari ini. Dan hatiku tak pernah setenang ini.


Jakarta, Februari 2007
Cinta tidak menyadari kedalamannya,
Sampai ada saat perpisahan.
-Kahlil Gibran-

Sunday, June 29, 2008

Ia kembali..

Jakarta, 27 Juni 2008


Pukul 23.23

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Suara Fergie yang menjadi ringtone HP ku mulai mengisi kesunyian malam dikamarku waktu itu. Aku mengambil HP yang tergeletak di atas tempat tidur. Akh, ada SMS masuk. Perlahan aku membukanya.

From : +6285624426***
Hmm, prasaan br kmrn gw pndh kbdg,, skrg udh beres2 pindahan.. Gw jd inget lu sempet ngs pas gw pamit pgn kbdg, he8x..

Hmm, ia datang. Aku terdiam sejenak. Mengapa ia masih ingat kejadian itu? Kejadian itu sudah 4 tahun yang lalu. Bahkan aku lupa kalau aku pernah menangis untuknya. Apakah kejadian itu begitu lucu?

Pukul 23.39

Tiba-tiba HP ku berbunyi lagi. Ternyata SMS masuk. Aku langsung membukanya.

From : +6285624426***
Gila, bahkan gw msh nyimpen tulisan tgn lu pas ptma x gw dtg krmh lu ma c ivan,, bagan geografi gt dah, ck8x

Aku kembali mengingat. Mengapa ia tidak pernah membuang tulisan tangan itu? Tulisan itu aku tulis 7 tahun yang lalu atau 8 tahun yang lalu. Akh, aku sudah lupa. Bahkan aku sendiri sudah membuangnya


Screensaver itu muncul lagi. Saat aku sedang lengah. Saat aku merasa nyaman dengan ketidakhadiran ia di kota ini. Sesaat aku merasa 4 tahun begitu cepat berlalu. 4 tahun yg dulu selalu aku nantikan kehadirannya. 4 tahun yang membuat semuanya berubah. Sepertinya luka ini kembali menganga. Perih. Tahukah ia?

Ketulusan. Sebuah janji yang ku tawarkan beberapa tahun lalu. Janji yang tidak pernah terucap. Aku tak meminta apapun darinya. Bahkan sedetik waktu yg ia punya. Namun sebuah kalimat yg keluar dari bibirnya serasa menohokku dari belakang.

"Kesabaranku udah abis buat ngadepin kamu!"

Tuhan, bahkan ia sudah tidak menginginkanku ada disisinya. Apa arti kesabaranku? Lalu mengapa ia masih menahanku? Rasa penyesalankah yang bisa membuatnya menahanku? Atau hanya karena rasa kasihan? Aku tidak butuh rasa kasihanmu! Ambil itu!

Aku bukan penjahat. Aku tidak ingin menahannya lebih lama lagi untuk bersabar. Aku rela melepasnya, hanya agar ia tidak merasa tersiksa berada di dekatku. Aku rela melepasnya, hanya agar ia bisa mendapatkan wanita seperti yang ia mau. Dan wanita itu, bukan aku!

Duri ini terlalu tajam dan dalam menusuk kulitku. Ia memang sudah mencabutnya. Sudah sangat lama ia mencabutnya. Tetapi bekas luka ini tidak pernah hilang. Tidak akan pernah bisa hilang.

Ia memang kembali. Namun ia tidak akan pernah bisa tenang, sampai bekas luka ini menghilang. Salahkah aku?



***
Its time to be a big girl now
And big girl don't cry

Fergie - Big girl don't cry