Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Pengacau Hati

Telepon pintar Bintang berdering. Rendy, nama itu tiba-tiba muncul di layar. Tumben, pikirnya.
"Bee, aku lagi di Jakarta anter mama nih, nanti aku mampir ke rumah kamu ya"
"Kamu dimana?"
"Tiga puluh menit lagi aku nyampe rumah kamu, aku drop mama dulu ya"
Klik. Percakapan mereka diputus.

Jantung Bintang berdegup kencang. Ia tidak bisa menghentikannya. Otaknya berpikir cepat. Ia harus mengganti baju tidurnya. Secepat mungkin membuka lemari dan mengambil baju terbaik yang ia punya.

Bintang sudah menunggu saat ini tiba. Rendy menghampirinya, akhirnya. Bandung - Jakarta memang tidak jauh. Namun Bintang tidak cukup berani untuk bertandang dan menyatakan perasaannya pada Rendy.

Tiga puluh menit terasa begitu lama. Perasaan Bintang sudah lebih lama ada, namun rasanya baru kemarin ia merasa jatuh cinta. Ah, cinta. Rasanya terlalu naif untuk mengatakan bahwa itu cinta.

Suara mobil berderu di depan rumah. Mungkin itu Rendy, pikir Bintang. Ia bergegas keluar. Jantungnya semakin berdegup kencang. Lebih kencang hingga tangannya bergetar ketika membuka pintu.

Mobil sudah terparkir di halaman. Sesosok pria berpolo shirt putih dengan senyum mengembang menghampiri Bintang. Rendy mengacak-ngacak poni Bintang, menyadari bahwa ia telah lama ditunggu.
"Yuk, masuk", sapa Bintang.
Bintang dan Rendy duduk bersebelahan di ruang keluarga. TV menyala, namun tak satupun dari mereka memerhatikan. Mereka bertukar banyak cerita. Sesekali tawa terdengar di sela-sela keheningan. Entah apa yang mereka tertawakan. Tak jarang Rendy tertangkap sedang mengamati ujung mata Bintang.
"Coba liat tangan kamu"
"Mau ngapain sih, Ren?"
"Mau ngukur apa bener tangan kamu lebih kecil dari tangan aku, aku ga percaya soalnya"
"Hahaha.."
Sedetik kemudian, tangan mereka saling bertautan. Bintang menyadari ini bukan ilusi. Ia mencoba melepaskan genggaman Rendy. Namun Rendy menautkan jari-jarinya semakin dalam, hingga Bintang tak kuasa menolak. Mereka larut dalam percakapan.

Setelah puas saling melepas rindu, Rendy berpamitan.
"Aku pulang ya, sudah larut"
"Oke"
Rendy perlahan melepaskan tautan tangannya. Ia membantu Bintang berdiri dari duduknya. Sebelum Rendy beranjak pergi, ia memegang kedua bahu Bintang. Kemudian mendaratkan bibirnya di ujung kepala Bintang. Bintang hanya bisa terdiam. Semuanya terasa cepat. Apa ini? Bintang tidak tahu apa ia harus mempertanyakan ini pada Rendy atau tidak. Ia hanya bisa tertegun hingga Rendy menghilang dari pandangan.

***

Sudah tiga hari terlewat sejak pertemuan terakhir mereka. Rendy mengirimi Bintang beberapa pesan, namun tidak ada yang ia balas. Bintang menunggu penjelasan, akan tetapi tidak ada satupun pesan dari Rendy yang menyinggung tentang itu. Bagi Bintang, apa yang dilakukan Rendy bukan hanya sekedar perlakuan seorang teman.

Sampai pada hari keempat, Bintang sudah tidak bisa menahan segala bentuk perkiraan. Ia memutuskan untuk menelepon Rendy dan bertanya.
"Kamu menyadari ada yang beda dari aku, Ren?
"Umm, apa ya.. Kamu lebih pendiam, pesan aku ga ada yang kamu balas satupun"
"Kamu tau kenapa?"
"Ga"
"Kamu beneran ga tau atau pura-pura ga tau, Ren?"
"Beneran ga tau"
"Hmm.. Kenapa kamu melakukan itu dirumahku kemarin?"
"Melakukan apa sih, Bee?"
"Menggenggam tanganku, mencium keningku"
"Oh itu"
"Apa itu yang dilakukan seorang teman?"
"Kita memang sedekat itu kan?"
"Kamu anggap aku apa?"
"Hmm.. Bee bukan maksudku untuk.."
"Kamu anggap aku siapa, Ren?"
"Aku sayang kamu, Bee"
"Lalu?"
"Lalu kita berteman"
Fine. Cukup sudah Bintang membuang waktu untuk pria yang ia anggap penting.

***

To be continue...
Mbak Bintang ini emang agak dramak, terima aja.
Baca cerita sebelumnya disini.

Nulis cerita ini uda agak lama, sekitar tahun lalu atau dua tahun lalu, saya lupa.
Dan sebelum jadi jamur dipojokan draft, saya publish aja.

Sunday, July 31, 2016

Fate

"Kamu ingat?"
"???"
"Aku pernah kasih kamu sebuah gambar ilustrasi"
"Oh, itu"
"Kamu masih simpan?"
"Ada"
"Wanna doing one thing for me?"
"Anything"
"Dibelakang frame aku meletakkan sebuah surat"
"Surat?"
"Ambil dan buang suratnya. Jangan tanya mengapa."
"Ok, i'll do it"
"Thank you"

***
Genta mendapat hadiah ulang tahun dari Vio. Entah yang ke berapa. Ia lupa. Sebuah ilustrasi dirinya. Cukup lama ia ga pernah memajangnya di sudut kamar. Terlalu banyak ilusi. Hari ini, demi sebuah permintaan, ia membuka kotak usang itu.

Genta membuka frame foto perlahan. It's been more than ten years. Crazy. Perempuan mana yang bisa-bisanya menyimpan surat selama puluhan tahun dan ga ada yang tahu, cuma Vio yang sanggup.

Susah payah Genta membuka framenya. Lengket. Jelas. Sudah lebih dari sepuluh tahun. Mungkin jika Vio ga menyapanya lebih dulu, ia ga akan pernah tau bahwa ada pesan tersembunyi.

Masih ada. Suratnya memang tergeletak disana. Sedikit berubah warna. Amplopnya berwarna orange kemerahan. Ditengah amplop tertera namanya "To: Magenta". Genta ragu. Haruskah ia membuangnya? Atau melihat isinya lalu membuangnya?

Violetta. Someone from the past. Someone who he care about, couple years ago. They're friend now. Kalau saja Genta tidak bisa menyebutnya sebagai teman baik. Cukuplah Vio ada di linimasanya sekarang. Ia memutuskan untuk membuka surat dan membacanya perlahan.
Dear Magenta,
If you open this letter now, maybe we're not hold the same hand right now. We were in a different planet. You're there and i'm here. You doing that and i'm doing this. Actually, we're too cute to be separated isn't?
I still remember when first time i saw you. You're a kind man, i know it. And through this letter, i just wanna say that i do care about you. Whatever happen, you always have a place in my life. Be a good man, be a good friend, be a good husband, be a good dad.
That's all i can write to you. If fate bring us one day, maybe we can have a cup of hot chocolate, a good laugh, and warm conversations with pouring rain over the window.
See you when i see you.
Love,
Violetta
Genta menghela napas panjang. Ia memasukkan surat ke dalam amplop. Merobeknya menjadi dua bagian. Dan memasukkannya ke keranjang sampah di sudut kamar.
Can we have a cup of hot chocolate tonite? Its rainy day btw, i need a cup of hot chocolate to warm my heart. -Genta-
Message deleted...

Wednesday, December 31, 2014

Senja di Akhir Desember

"Aku ga tau gimana caranya bikin kamu happy"
"Kamu kenal aku lama dan masih ga tau gimana caranya menghiburku?"
"Hmm... Banyak hal yang kamu suka dan menurutku bisa membuatmu senang"
"Seperti?"
"Menghirup wangi tanah basah ketika hujan"
"Kamu tau itu"
"Tapi aku ga tau apa saat ini dengan begitu kamu akan merasa happy"
***
Sore itu hujan turun dengan deras. Senja duduk pada sofa bulat berwarna jingga yang sengaja ia letakkan di teras lantai dua dekat kamarnya, jika sewaktu-waktu langit datang membawa hujan. Senja tak membiarkan sesungging senyum menghiasi sudut bibirnya. Hanya ada tatapan kosong dan puluhan tanya yang menghiasi kepalanya.

Langit sengaja menghampiri Senja di teras sore ini. Ia mengenal Senja sejak pertama kali langkah kaki kecil mereka bisa menapak. Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mengerjakan tugas sekolah. Hingga sekarang pun mereka masih suka bertemu sekedar membahas hal yang tak perlu. Mereka tinggal berseberangan. Semakin memudahkan untuk saling menyapa dan bertukar cerita.

Langit senang menemani Senja menikmati hujan. Terlebih sore ini, hujan ternyata datang tak sendiri. Ia membawa kabar duka yang membuat Senja semakin ingin bertemu langit.
"Aku hanya ingin berpijak pada bumi"
"Kamu sudah mendapatkannya"
"Bukan bumi yang ini"
"Bumi yang mana?"
"Kamu tau kenapa orang tuaku memberi nama Senja?"
Senja sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin karena mereka suka melihat senja"
Langit menjawab tanpa berpikir. Senja tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Langit bisa melihat dari mata Senja yang sedikit memicing.
"Mungkin, tapi bukan itu"
"Terus apa?"
"Ibu sering menceritakan sebuah dongeng perihal namaku"
Dahulu bumi sering merasa cemburu pada langit. Langit memiliki awan, matahari dan hujan yang menemani. Setelah hujan, bahkan masih ada pelangi yang mengiringi hingga membuat langit tersenyum simpul. Kala itu, bumi yang sedang bersedih meminta pada Tuhan untuk mengirimkan fajar dan senja agar bumi tak lagi merasa sendiri.
"Lalu kaitannya dengan namamu?"
"Ayah dan ibu adalah bumiku"
"Dan kamu senja yang mereka minta?"
Senja hanya diam sambil mengawasi titik-titik hujan yang mulai berani menyentuh keningnya.
"Mereka berharap aku bisa menemani hingga mereka menutup hari"
"Dan kamu sudah memenuhi janji"
"Iya, aku sudah memenuhi janji"
Langit mengambil secarik kertas yang sudah ia siapkan dan memberikan pada Senja sebelum ia beranjak pergi.

Senja membuka perlahan dan menyesapi tiap kata dalam hati.
Dear Senja,Jika kamu merasa bumi ini seperti ingin runtuh dan bukan lagi tempat yang nyaman untukmu berpijak, then look at the sky. Bahkan langit masih punya pelangi setelah hujan.
Senja menatap langit sesaat, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan menyalakan televisi. Menanti kabar apakah bumi masih mampu dipijak. Langit sedang mengirim pesan, mungkin Senja hanya perlu meng-amin-i.

Sunday, September 21, 2014

Ketika Saling Membenci

Pernahkan kamu merasa begitu terluka? Ketika dua orang yang kamu sayangi tiba-tiba saling membenci.

Tatapan mata yang dulu berbinar ketika bertemu. Sekarang tajam menghunus seperti pedang. Kata-kata kasar berhamburan. Dari bibir yang dulu pernah saling memuji. Kebencian yang menurut Alena ga seharusnya ada disana.

"Hingga saat ini, aku masih merasa ga da pria yang bisa menjagamu dengan baik selain dia", ucap Alena lirih.

Dia, pria yang katamu ga pernah membelamu di depan ibunya dan memilih membelamu dalam diam demi menjaga hati ibunya. Dia, pria yang katamu selalu memintamu pulang ketika malam tiba dan ga memberimu waktu untuk sekedar menyapa keramaian. Dia, pria yang masih bisa bersabar ditengah naik turunnya emosimu dan tajamnya tatapan mata. Dia, pria yang meskipun pagi ini kamu bentak bahkan sore harinya masih bersedia menyelamatkanmu dari kemacetan ibu kota. Apalagi yang kamu mau, Fey?

"Aku ga pernah meminta dia untuk baik sama aku Al", belamu kala itu.

Pria baik ternyata ga cukup baik untuk membuatmu tetap berada di sampingnya ya? Kamu dengan mudahnya membenci dia. Melupakan semua kebaikan dia. Kamu tau pasti bahwa kamu bukan malaikat kan, Fey? Kamu tidak bisa merekatkan hati yang retak dan patah kembali seperti semula. Kamu tau betul dia terluka.

"Pria yang tulus menyayangimu akan memberi tanpa perlu kamu minta, Fey. Dan itu yang dia lakukan", jelas Alena.
"Kamu ga akan ngerti Al", Fey mulai malas berdebat.
"Fine, buat aku mengerti", putus Alena.

Fey menarik napas yang kini mulai terasa berat. Baginya ini semua sudah berakhir dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Ia merasa lelah. Dengan aturan. Dengan penerimaan keluarganya. Dengan sikapnya yang kekanakan. Dan ini puncaknya.

"Aku menemukan sosok ayah pada pria lain Al, dan itu bukan dia", tegas Fey.
"Ayah sudah lama pergi Fey, seharusnya kamu tau itu", Alena berusaha menghindari tatapan mata Fey.

"Dan satu lagi, kamu ga sepantasnya membenci dia", air mata Alena mulai menggenang di pelupuk mata.

Alena terlalu menyayangi keduanya. Tidak akan ada yang bisa menyamai ayah. Baik dia. Atau siapapun kelak yang jadi pendampingmu. Dan itu bukan pembenaran untuk kamu bisa membenci dia, Fey. Pria yang dulu pernah ada dihidupmu.

"Aku ga ingin memaksamu, apapun yang membuatmu merasa bahagia", Alena menyerah.

Apapun yang Alena katakan, percuma. Ketika waktu menyapa dan kamu tersadar, Fey. Maka berharap semuanya belum terlambat.

Tuesday, May 27, 2014

Pria Pilihan

"Gimana sama ponakannya Tante Myra?"
"....."
"Dia sudah hubungi kamu?"
"Belum"
"Tadi Tante Myra telepon Ibu, katanya Gilang sudah SMS kamu tapi kamu ga bales"
"Ga ada SMS dari Gilang, Bu"
"Dia itu serius mau nikah tahun ini kalau kamu mau. Tante Myra juga bilang kalau Gilang tertarik sama kamu, kamu suka ga?"
"Ga tau, Bu"
"Kok ga tau, Bee?"
Bintang memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Ibu barusan. Melihat anak sulungnya hanya diam saja, Ibu memilih untuk tidak meneruskan pembicaraan mengenai Gilang dan kembali ke kamar.

***

Bintang Putri Aurora, seorang perempuan berusia seperempat abad, yang tidak takut akan apapun. Kehidupan mengajarkan padanya untuk berani menghadapi semua tantangan yang menghadang. Namun setangguh apapun Bintang, ia tetap perempuan yang punya rasa takut. Pada apa? Hanya Bintang yang tahu.

Satu bulan lalu Tante Myra mengenalkan keponakannya, Gilang, pada Bintang. Setelah beberapa kali berusaha menghindar, akhirnya Bintang memutuskan untuk mau dipertemukan. Sore itu Gilang datang bersama Tante Myra. Mereka tidak banyak berbincang. Gilang hanya menimpali sesekali. Bintang lebih banyak berbincang dengan Tante Myra.

Gilang, pria berusia enam tahun lebih tua darinya itu berperawakan tinggi. Wajahnya tidak tampan, namun cukup berwibawa. Gilang tidak seburuk apa yang kamu pikir, hanya bukan tipe pria yang disukai Bintang.

Sulit menjelaskan pada Ibu mengapa Bintang tidak ingin meneruskan perkenalan ini. Ia memang baru bertemu Gilang satu kali. Dan entah mengapa, Bintang merasa Gilang bukan pria yang ia inginkan untuk bersama.

Bintang ragu, bagaimana mungkin Gilang berani menjalani hidup bersamanya, jika untuk menghadapi perempuan lemah seperti dirinya saja ia takut?
"Mungkin Gilang hanya malu dan ga tau gimana cara memulai, Bee"
"Tapi gue ga suka pria pengecut, Kee"
"Lo terlalu cepet menilai Gilang, Bee"
Percakapan Bintang dengan Kinanti, teman baiknya, siang itu sepertinya tidak akan habis jika Bintang terus menyangkal. Bintang memilih untuk diam dan mengalah.

Berani, menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh pasangan Bintang. Berani memulai. Berani menjalani hari-hari bersamanya. Karena Bintang menyadari, ia tidak seberani itu.

Apa Bintang terlalu pemilih? Tentu saja ia harus memilih. Tapi Bintang cukup tahu diri. Ia tidak sesempurna itu untuk mendapatkan pria sempurna yang ia inginkan.
"Jangan bilang lo masih ngarepin si Rendy, cowok brengsek itu!"
"Gue memang masih penasaran sama Rendy, tapi gue ga tau apa gue mau menghabiskan seluruh hidup gue sama dia atau ga. Jadi lo ga usah nuduh sembarangan!"
"Sorry, Bee. Gue cuma mau jagain lo. Gue ga mau si Rendy brengsek itu nyakitin lo lagi!"
"Thanks Kee, tapi gue tau apa yang gue lakuin"
***

To be continue...
Menemukan kisah ini berdebu, dipojokan draft.
Akhirnya dipublish jugak! 

Friday, May 23, 2014

Apa Yang Membuat Kamu Bertahan?

"Apa yang membuat kamu bertahan sejauh ini?"
"Entah"
"Kamu seperti berjuang sendirian untuk meyakinkan mereka"
"....."
"Karena uang mungkin?"
"Jika karena itu, aku mungkin sudah lama pergi"
"Lalu karena apa?"
Perempuan itu hanya terdiam dan berusaha mengingat. Bola matanya mencoba menghindar dari tatapan teduh di depannya. Takut ia dapat membaca apa yang menjadi alasan. Dan mungkin tidak cukup masuk akal untuk sebagian orang.

Otaknya berpikir keras. Mencari padanan kata yang bisa diterima oleh akal sehat.
"Karena aku... mungkin"
Shit! Perempuan itu mengutuk jawaban yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Maksudnya?"
Damn! Harusnya perempuan itu tahu bahwa apapun yang keluar dari bibir mungilnya akan ditanyakan. Sekejap tadi benaknya berlarian tak tentu arah. Ini pasti gara-gara soal matematika yang pagi tadi ia kerjakan.

Friday, June 14, 2013

Gravity

Entah untuk alasan apa. Untuk kesekian kalinya. Kamu berdiri dengan mata berkaca-kaca. I can see you clearly. Can you see me?

Rengganis masih berdiri di balik kaca ruang ICU. Menatap tubuh kaku Erlangga yang dikelilingi selang-selang. Berharap gaya gravitasi bisa membawa ia kembali pulang.

Kamu ga pernah tau. Aku jatuh suka padamu.

Something always brings me back to you
It never takes too long
No matter what I say or do
I'll still feel you here 'till the moment I'm gone

You hold me without touch
You keep me without chains
I never wanted anything so much than to drown in your love
And not feel your rain

Set me free, leave me be
I don't want to fall another moment into your gravity
Here I am and I stand so tall
Just the way I'm supposed to be
But you're on to me and all over me

You loved me 'cause I 'm fragile
When I thought that I was strong
But you touch me for a little while
And all my fragile strength is gone

Set me free, leave me be
I don't want to fall another moment into your gravity
Here I am and I stand so tall
Just the way I'm supposed to be
But you're on to me and all over me

I live here on my knees as I try to make you see
That you're everything I think I need here on the ground
But you're neither friend nor foe though I can't seem to let you go
The one thing that I still know is that you're keeping me down
You're keeping me down

Something always brings me back to you
It never takes too long

***

Jatuh suka pada chemistry Afgan dan Maudy saat menyanyikan lagu ini tadi. Seperti banyak suka diantara mereka, namun entah apa.

Friday, August 19, 2011

Basa-Basi

"Hai! apa kabar?"
"Baik"
"Sama siapa?"
"Nih"

Pelukan hangat-hangat palsu mampir ditubuh wanita tinggi semampai itu. Lengkung manis dibibir menemani degup jantungnya yang loncat entah kemana. Basa-basi. Hal yang paling ia benci. Jika pintu doraemon di jual bebas di toko material, pasti sudah ia beli. Masih untung ada dua ekor betina yang menemani.

"Siapa?"
"Ooo.. Itu.."
"Emang kamu ga liat dari tadi dia lewat depan muka kamu"
"Engga!"

Wednesday, September 8, 2010

Menanti Fajar


Dan dia masih terdiam disudut itu. Sudut yang sama ketika terakhir kali mereka bertemu. Menanti Fajar yang tak kunjung datang. Dengan t-shirt putih dan celana jins selutut, dia tetap terlihat cantik diusianya yang mulai matang. Matanya terus menatap ke laut lepas sambil memainkan ujung-ujung rambutnya yang menari disapa angin.

***

"Hai, apa kabar? Masih ingat janji kita?", pikirannya melayang pada rona lusuh beberapa hari lalu.

Tak sengaja dia bertemu lelaki itu disudut sebuah cafe di Jakarta. Semuanya masih sama. Hanya saja garis-garis disekitar mata dan hidung membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Samar-samar dia menangkap bayangan lain disampingnya.

"Ah, sudah punya monyet ternyata", gumam dia dalam hati.

***

Setahun yang lalu, dia mengakhiri semuanya disudut itu. Tentu saja waktu itu keputusan bersama. Dan bersama-sama mereka menulis sebuah janji. Bukan hitam di atas putih. Tanpa materai 6000 yang dibubuhi tandatangan. Apalagi didampingi seorang pengacara. Hanya mereka. Berjanji di dalam hati.
Jika Tuhan mengijinkan. Setahun lagi, kita akan bertemu disini. Berdua. Menata kembali butiran pasir dalam gelas yang Dia sediakan. Mencari celah untuk menyatukan asa yang sempat terbelah.
Dan disanalah dia berada. Menunggu. Menagih janji yang sempat dilontarkan kemarin lalu.

***

"Mentari ya? Fajar menitipkan sesuatu untuk kamu", seorang gadis muda tinggi semampai datang menyodorkan secarik kertas pada dia.

Angin masih membelai lembut wajah Mentari. Ada rasa yang hinggap seketika. Kecewa. Pada Fajar yang mendahului terbitnya matahari. Pada cahaya Mentari yang lemah. Pada gelap malam yang menghapus sinar Mentari dibawah horizon pada pagi hari.

Maaf. Sebuah kata yang tertera pada secarik kertas pemberian gadis muda itu. Dia meremas dan merobeknya hingga kecil seperti butiran pasir.

"Kapan?",  dia menahan agar kristal bening dipelupuk matanya tidak jatuh terbawa air.
"Kemarin malam. Hujan. Dia kehilangan kendali. Mobilnya menabrak pembatas jalan", dengan sungkan gadis itu duduk disamping dia.
"Sebelum dia pergi malam itu, dia memintaku untuk menyerahkan secarik kertas pada gadis bernama Mentari", tanpa diminta gadis bernama Gea itu mulai bercerita.
"Apa isinya?", Gea mengalihkan pandangan pada mata Mentari.
"Hanya maaf", Mentari menyingkirkan helai rambut yang menutup mata bulatnya.

Dia berdiri. Meninggalkan jejak kaki dihamparan pasir. Yang tak berapa lama lalu hilang dibawa pasangnya air.

***
*pict taken from here

Inspite of all, saya hanya ingin minta maaf setulus hati. Terutama pada orang-orang yang kenal saya secara personal. Maaf terkadang jadi momok menakutkan buat saya. Takut itu hanya menjadi sekedar ucapan yang tidak diimbangi dengan perbuatan dan rasa percaya luntur karenanya.

Tapi saya percaya Tuhan beri saya teman, saudara, dan keluarga yang sangat baik. Meskipun jejak langkah kaki saya begitu membekas dihamparan pasir, pasangnya air akan memberi banyak sisi positif yang bisa saya bawa hingga akhir nanti.

Maaf lahir bathin, kawan ^_^

Monday, July 19, 2010

Dia, Takkan pernah terganti

Wangi kamboja menyeruak ke seluruh ruangan. Terdengar sayup-sayup lantunan surat Yassin. Suasana begitu ramai. Namun, entah mengapa aku merasa seorang diri. Mataku buram. Yang dapat terlihat hanya kain batik coklat itu. Kain yang menutupi seluruh tubuhnya.

Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu. Mama, begitu biasa aku memanggilnya. 9 bulan 10 hari lamanya aku berada disana. Selama itu dia serasa membawa puluhan kilo kelapa diperutnya. Susah bernafas. Tidak enak tidur. Tapi dia tidak mengeluh.

Katanya, aku adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki. Bahkan dia rela memakan semua makanan yang dia tidak suka, hanya untukku. Bahkan dia rela menahan rasa sakitnya, hanya untukku.

Ketika aku akan lahir ke dunia ini, dia menjerit. Bukan karena kesakitan. Tetapi ia menjerit bahagia. Bahagia karena akhirnya dia akan melihatku. Anaknya. Pertarungan antara hidup dan mati ada di depan mata. Malaikat izrail seakan berada disampingnya menunggu hingga aku dilahirkan. Bahkan aku masih mengingat ketika pertama kali aku minum air susu dari putingnya. Dahagaku hilang seketika. Dia hanya menatapku dan tersenyum bahagia. Katanya, jika aku besar nanti aku pasti akan menjadi anak yang pintar dan gagah.

Pagi-pagi, ketika seisi rumah masih terlelap dalam mimpinya, dia sudah berjalan menuju dapur. Menyiapkan sarapan pagi untukku dan ayahku, kemudian membasuh wajahnya untuk mengambil air wudhu. Begitu selalu setiap paginya. Aku tahu aku memang susah diatur. Setiap mau tidur, pasti aku tidak pernah mencuci kakiku. Dan tahukan kalian apa yang dia lakukan? Dia membasuh kakiku. Subhanallah. Bahkan hingga kini aku tak pernah membasuh kakinya seperti dia membasuh kakiku.

Jika aku melihat pisau, aku teringat padanya. Iyah. Sebuah pisau hampir mengenai kepalaku dulu. Memang itu salahku. Aku pulang terlambat dengan baju yang berlumuran lumpur. Aku marah. Aku kesal karena dia tidak mengerti keinginanku. Aku kabur dari rumah. Dan dia tidak mencariku.

Beranjak remaja, aku semakin tak mengerti apa yang diinginkannya. Aku bingung. Semua yang aku lakukan salah dimatanya. Apalagi ketika adik-adikku mulai mencuri perhatiannya. Semua yang aku lakukan semakin salah dimatanya. Aku lelah harus terus mengalah demi adik-adikku.

Aku teringat dia pernah memarahiku hanya karena sepotong roti. Waktu itu perutku kosong. Dari pagi aku belum makan. Kulihat sepotong roti diatas meja makan. Aku hanya memakan seperempat bagiannya. Aku tahu aku harus menyisakannya untuk adik-adikku. Tapi apa yang aku dapat? Dia marah besar. Aku benci padanya. Aku kabur dari rumah. Dan baru ku tahu ternyata dia kebingungan mencariku.

Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk jauh darinya. Menuntut ilmu di negeri orang. Dengan dalih mencoba untuk hidup mandiri sebenarnya aku hanya ingin melarikan diri dari celotehannya. Ketika dia mengantarkanku ke kota dimana aku akan tinggal selama beberapa tahun ke depan, kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Dia memberiku sebuah nasihat yang masih aku ingat hingga saat ini. Dia berkata agar aku menjaga diri karena dikota ini tidak ada dia, tidak ada ayah, tidak ada adik-adikku. Aku sendiri. Rasanya aku ingin menangis saat itu. Tapi aku sudah memilih. Dia mengantarkanku ke pintu gerbang itu. Dia hanya terdiam mematung menatap gerbang. Tak bergeming hingga aku hilang dari pandangannya. Sebegitu khawatirnya dia meninggalkan aku.

Bahkan sejak ayah meninggal beberapa tahun lalu, tak pernah kudengar sedikitpun keluhannya. Dia masih sama seperti dulu, cerewet dengan segala celotehannya dan perhatian dengan segala kecerewetannya. Kemarin samar kulihat gurat-gurat keriput diwajahnya. Usianya memang sudah tidak muda. Rambut-rambut putih mulai terlihat disela-sela rambut hitamnya yang tebal. Namun jilbabnya senantiasa menutupi perubahan dirambutnya. Tubuhnya juga tak sekuat dulu. Beberapa tahun lalu, dia masih sanggup berjalan sendirian tanpa ada yang menemani. Dan sekarang, bahkan kedua kakinya sudah tak sanggup menahan berat tubuhnya. Urat-urat mulai terlihat disekujur tubuhnya. Tangannya. Kakinya. Rona letih bahkan terpancar jelas diwajahnya. Nafasnya mulai terdengar berat. Tapi dia tetap tersenyum menyambut kedatanganku.

Air mataku tiba-tiba menetes dengan sendirinya. Aku tak ingin menangis. Namun rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak ini tak dapat lagi kubendung.

Mama..
Aku tahu Mama pasti bahagia berada disana. Bersama ayah. Bersama nenek. Bersama kakek. Baktiku padamu tidak akan pernah cukup rasanya walau ku bayar dengan nyawaku. Aku tahu, hidup akan terus berjalan, dengan atau tanpa Mama disampingku. Mungkin Mama bukan Mama yang baik, tapi Mama adalah Mama terbaik yang pernah aku miliki.

Kata maaf mungkin sudah terlambat sekarang. Namun doa ini tak akan pernah henti terucap dari batin dan jiwaku. Sampai berjumpa Ma..


Jakarta, Maret 2008
Untuk semua Mama
ILU
XXX

***
The story taken from here