Showing posts with label just a story. Show all posts
Showing posts with label just a story. Show all posts

Sunday, May 21, 2017

Dalam Hitungan Hari,

Masyarakat muslim akan memasuki bulan Ramadan. Ada satu kebiasaan yang saya, mama, dan adik lakukan sebelum memasuki Ramadan, yaitu nyekar atau ziarah ke makam. Makam papa. Makam teteh.

Kemarin adalah saatnya. Dijalan saya menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Sejak beberapa minggu belakangan saya selalu tidur di atas jam 12 malam dan sulit tertidur, jadi mumpung ada yang nyetirin saya bisa meneruskan tidur selama perjalanan Jakarta - Serang.

Sampai disebuah makam, kami disambut cuaca yang cukup terik melebihi teriknya cuaca Jakarta. Kering. Panas. Angin pun bahkan ga banyak bertiup. Kami parkir di depan pintu sebuah pekuburan. Sepi.

Pintu besi pekuburan tertutup rapat. Biasanya ada seorang penjaga yang bertugas membersihkan makam. Kali ini hanya kami berempat yang ada, ditemani gemerisik daun lontar kering yang kami injak.

Bahkan gubuk yang ada ditengah makam pun terlihat ga terawat. Gubuknya hampir rubuh. Bangku kecil terbuat dari kayu yang ada di dalamnya pun sebagian hilang dan rusak. Rumput gajah meninggi disetiap petak tanah. Daun lontar kering berserakan menutupi makam. Entah kemana sang penjaga makam.

Kami menghampiri makam yang dituju. Namun, bersih. Rumput liar sudah tercabut dari tanah sampai ke akarnya. Daun-daun kering berada jauh di pinggir makam. Tanahnya memang sedikit kering, namun ga sekering makam lainnya. Entah siapa yang sudah membersihkannya. Mungkin saudara kami yang lain sudah datang terlebih dahulu untuk menghantarkan doa.

Setiap tahun kami mengunjungi makam ini. Tujuh belas tahun sudah. Mendatangi 'rumah' yang sama. Tempat yang sama. Makam yang sama. Nisan yang sama. Bersama orang yang sama. Doa yang sama.

Dan biasanya saya datang dengan diiringi perasaan yang sama: gitu aja. Ga merasakan sedih. Ataupun haru. Terlalu lama menyimpan kesedihan, kadang membuat saya lupa untuk menghitung kebahagiaan. Jadi saya memilih, untuk biasa aja. Bertahun-tahun setiap mendatangi makam ini, saya selalu merapal mantra yang sama, dalam hati.

Bahwa seseorang yang sudah pergi, ga akan pernah kembali. Bahwa ga ada satu hal pun, yang perlu saya sesali. Bahwa apapun yang terjadi dengan saya hari ini, pasti bisa saya lewati. Bahwa apapun yang saya takuti di dunia ini, ga akan pernah terjadi. Bahwa masih ada alasan lain, mengapa hidup saya harus terus berjalan sampai akhir.

Akan tetapi, mantranya ga berlaku kemarin lalu.

Ditengah rapalan doa yang kami panjatkan, saya ga kuasa membendung genangan air dipelupuk mata. Entah untuk alasan apa ia turun perlahan dan membasahi bumi.

Mungkin,

Sejenak saya lupa caranya.

Menahan rindu.

Atas kehilangan.

Kamu pernah begitu?

Sunday, January 15, 2017

Who Are You Without Your Past?

That day, when the sun shine brightly. I met someone and had a conversation with him.
"You're type of woman who always see the past, then set future goals later", he said.
"Wow", I glanced at his brown eyes.
"If you want to be by my side, you should know what will happen with us in the future without looking back", he explained without hesitation.
That's fairly deep conversation I think. For someone who first met. And talked for thirty-minutes. He was pretty quick to judge me.

The 'conversation' is quite relaxing indeed. Honest. Straight to the point. And makes me wonder.

Who are you without your past?

You learn many things from looking back don't you? Not always your past. But also people around you. Mother, sister, uncle, aunty, neighbor, co-worker, a close friend, someone who accidentally met on your way. Their past indirectly establish yourself now.

Who are you without your past?
You learn how to struggle and face this fucking world. You realize that not everyone likes you as a person. Nor they would feel happy if you're happy too. You learn how to ignore them. Because you know what's better for your life. You learn how to talk to others as much as you can, and choose the one that suits to your view of life.

Who are you without your past?
You learn how to appreciate your life and people's life. Life that you may have never imagined. You know exactly, maybe out there many people want to be on your shoes. And you as a human being, will always compare with other people's life. Then you learn how to stop it. And just do many good things to remember.

Who are you without your past?
You learn how to work hard. And play hard at the same times. You understand that convenience always comes with difficulties. You learn to choose when you have to work until the end of the night, or go home earlier to replace the lost time. You remember, all that you have now is because you are eager and strive to achieve it.

Who are you without your past?
You learn how to love someone properly and unconditionally. You know sometimes relationship getting sucks. And not always as beautiful as you expect. You learn how to handle it. You learn that there are times when you have to hold her tight or let her free. Moreover, you learn how to laugh your follies of your past.

You learn being good. You learn being a better human. You learn being a best man, father, child, friend, boyfriend, husband, from all mistakes that you've ever done in the past. 

Without your past, you are maybe someone else today. Someone that i don't know. Someone that i don't remember. Someone that i call: stranger.

By looking at the past, it doesn't mean you always be there.

Pengacau Hati

Telepon pintar Bintang berdering. Rendy, nama itu tiba-tiba muncul di layar. Tumben, pikirnya.
"Bee, aku lagi di Jakarta anter mama nih, nanti aku mampir ke rumah kamu ya"
"Kamu dimana?"
"Tiga puluh menit lagi aku nyampe rumah kamu, aku drop mama dulu ya"
Klik. Percakapan mereka diputus.

Jantung Bintang berdegup kencang. Ia tidak bisa menghentikannya. Otaknya berpikir cepat. Ia harus mengganti baju tidurnya. Secepat mungkin membuka lemari dan mengambil baju terbaik yang ia punya.

Bintang sudah menunggu saat ini tiba. Rendy menghampirinya, akhirnya. Bandung - Jakarta memang tidak jauh. Namun Bintang tidak cukup berani untuk bertandang dan menyatakan perasaannya pada Rendy.

Tiga puluh menit terasa begitu lama. Perasaan Bintang sudah lebih lama ada, namun rasanya baru kemarin ia merasa jatuh cinta. Ah, cinta. Rasanya terlalu naif untuk mengatakan bahwa itu cinta.

Suara mobil berderu di depan rumah. Mungkin itu Rendy, pikir Bintang. Ia bergegas keluar. Jantungnya semakin berdegup kencang. Lebih kencang hingga tangannya bergetar ketika membuka pintu.

Mobil sudah terparkir di halaman. Sesosok pria berpolo shirt putih dengan senyum mengembang menghampiri Bintang. Rendy mengacak-ngacak poni Bintang, menyadari bahwa ia telah lama ditunggu.
"Yuk, masuk", sapa Bintang.
Bintang dan Rendy duduk bersebelahan di ruang keluarga. TV menyala, namun tak satupun dari mereka memerhatikan. Mereka bertukar banyak cerita. Sesekali tawa terdengar di sela-sela keheningan. Entah apa yang mereka tertawakan. Tak jarang Rendy tertangkap sedang mengamati ujung mata Bintang.
"Coba liat tangan kamu"
"Mau ngapain sih, Ren?"
"Mau ngukur apa bener tangan kamu lebih kecil dari tangan aku, aku ga percaya soalnya"
"Hahaha.."
Sedetik kemudian, tangan mereka saling bertautan. Bintang menyadari ini bukan ilusi. Ia mencoba melepaskan genggaman Rendy. Namun Rendy menautkan jari-jarinya semakin dalam, hingga Bintang tak kuasa menolak. Mereka larut dalam percakapan.

Setelah puas saling melepas rindu, Rendy berpamitan.
"Aku pulang ya, sudah larut"
"Oke"
Rendy perlahan melepaskan tautan tangannya. Ia membantu Bintang berdiri dari duduknya. Sebelum Rendy beranjak pergi, ia memegang kedua bahu Bintang. Kemudian mendaratkan bibirnya di ujung kepala Bintang. Bintang hanya bisa terdiam. Semuanya terasa cepat. Apa ini? Bintang tidak tahu apa ia harus mempertanyakan ini pada Rendy atau tidak. Ia hanya bisa tertegun hingga Rendy menghilang dari pandangan.

***

Sudah tiga hari terlewat sejak pertemuan terakhir mereka. Rendy mengirimi Bintang beberapa pesan, namun tidak ada yang ia balas. Bintang menunggu penjelasan, akan tetapi tidak ada satupun pesan dari Rendy yang menyinggung tentang itu. Bagi Bintang, apa yang dilakukan Rendy bukan hanya sekedar perlakuan seorang teman.

Sampai pada hari keempat, Bintang sudah tidak bisa menahan segala bentuk perkiraan. Ia memutuskan untuk menelepon Rendy dan bertanya.
"Kamu menyadari ada yang beda dari aku, Ren?
"Umm, apa ya.. Kamu lebih pendiam, pesan aku ga ada yang kamu balas satupun"
"Kamu tau kenapa?"
"Ga"
"Kamu beneran ga tau atau pura-pura ga tau, Ren?"
"Beneran ga tau"
"Hmm.. Kenapa kamu melakukan itu dirumahku kemarin?"
"Melakukan apa sih, Bee?"
"Menggenggam tanganku, mencium keningku"
"Oh itu"
"Apa itu yang dilakukan seorang teman?"
"Kita memang sedekat itu kan?"
"Kamu anggap aku apa?"
"Hmm.. Bee bukan maksudku untuk.."
"Kamu anggap aku siapa, Ren?"
"Aku sayang kamu, Bee"
"Lalu?"
"Lalu kita berteman"
Fine. Cukup sudah Bintang membuang waktu untuk pria yang ia anggap penting.

***

To be continue...
Mbak Bintang ini emang agak dramak, terima aja.
Baca cerita sebelumnya disini.

Nulis cerita ini uda agak lama, sekitar tahun lalu atau dua tahun lalu, saya lupa.
Dan sebelum jadi jamur dipojokan draft, saya publish aja.

Friday, January 6, 2017

Buram


Bukan mata kamu yang salah kok. Fotonya memang buram. Saya tersangka utama, yang mengabadikan senja sore ini.

Ceritanya ketika pulang kantor hari ini, jalan yang biasanya saya lewati ditutup dan ga ada pemberitahuan. Yaaa siapa saya juga sampai harus dikasih tau. Sempat kesal karena sudah jalannya sempit, jadi macet karena harus putar balik, waktu terbuang, terus ga ada yang ngasih tau.

Padahal sebelum masuk gang yang akan saya lewati itu, ada polisi cepek. Saya tau ini jadi kesempatan bagi mereka, untuk mendulang receh lebih banyak. "Tapi kok ya mereka jahat", pikir saya. *dramak* Kalau memang ga bisa lewat dari awal seharusnya palang pintu ditutup. Jadi kan saya bisa langsung putar balik. 

Akhirnya setelah putaran dan antrian panjang, saya memutuskan untuk keluar lewat jalan lain. Jalan keluar yang satu ini memang agak jauh dan memutar. Sambil menggerutu dan menunggu antrian keluar, saya memandang langit-langit lalu amazed sendiri, "senjanya cantik banget".

Berhubung jarang lihat matahari tenggelam di Pulo Gadung, jadi agak excited begitu menemukan. Sambil berkendara, saya coba mengabadikan. Karena ga bisa berhenti lama, walhasil gambar yang terekam ga seperti yang saya kira. Beginilah. Namun kesal hilang bersama gambaran senja yang saya simpan di kepala.

***

Kamu mungkin pernah merasa pandanganmu buram. Kabur. Ga bisa melihat apa-apa. Hidup terasa ga menyenangkan. Semua serba ga nyaman. Samar-samar. Apa-apa yang kamu lihat semuanya pudar. Bahkan kamu membuat orang lain percaya bahwa apa yang kamu lihat benar.

Padahal mungkin saja kamu hanya lupa untuk 'mengelap' kacamata. Kamu membiarkan debunya menempel pada kacamata hingga pandanganmu jadi buram. Debu-debu penyakit hati. Debu prasangka. Debu yang kalau dibiarkan terlalu lama bisa membuat kamu jatuh.

Jadi, sudah 'mengelap' kacamatamu hari ini?

Sunday, July 31, 2016

Fate

"Kamu ingat?"
"???"
"Aku pernah kasih kamu sebuah gambar ilustrasi"
"Oh, itu"
"Kamu masih simpan?"
"Ada"
"Wanna doing one thing for me?"
"Anything"
"Dibelakang frame aku meletakkan sebuah surat"
"Surat?"
"Ambil dan buang suratnya. Jangan tanya mengapa."
"Ok, i'll do it"
"Thank you"

***
Genta mendapat hadiah ulang tahun dari Vio. Entah yang ke berapa. Ia lupa. Sebuah ilustrasi dirinya. Cukup lama ia ga pernah memajangnya di sudut kamar. Terlalu banyak ilusi. Hari ini, demi sebuah permintaan, ia membuka kotak usang itu.

Genta membuka frame foto perlahan. It's been more than ten years. Crazy. Perempuan mana yang bisa-bisanya menyimpan surat selama puluhan tahun dan ga ada yang tahu, cuma Vio yang sanggup.

Susah payah Genta membuka framenya. Lengket. Jelas. Sudah lebih dari sepuluh tahun. Mungkin jika Vio ga menyapanya lebih dulu, ia ga akan pernah tau bahwa ada pesan tersembunyi.

Masih ada. Suratnya memang tergeletak disana. Sedikit berubah warna. Amplopnya berwarna orange kemerahan. Ditengah amplop tertera namanya "To: Magenta". Genta ragu. Haruskah ia membuangnya? Atau melihat isinya lalu membuangnya?

Violetta. Someone from the past. Someone who he care about, couple years ago. They're friend now. Kalau saja Genta tidak bisa menyebutnya sebagai teman baik. Cukuplah Vio ada di linimasanya sekarang. Ia memutuskan untuk membuka surat dan membacanya perlahan.
Dear Magenta,
If you open this letter now, maybe we're not hold the same hand right now. We were in a different planet. You're there and i'm here. You doing that and i'm doing this. Actually, we're too cute to be separated isn't?
I still remember when first time i saw you. You're a kind man, i know it. And through this letter, i just wanna say that i do care about you. Whatever happen, you always have a place in my life. Be a good man, be a good friend, be a good husband, be a good dad.
That's all i can write to you. If fate bring us one day, maybe we can have a cup of hot chocolate, a good laugh, and warm conversations with pouring rain over the window.
See you when i see you.
Love,
Violetta
Genta menghela napas panjang. Ia memasukkan surat ke dalam amplop. Merobeknya menjadi dua bagian. Dan memasukkannya ke keranjang sampah di sudut kamar.
Can we have a cup of hot chocolate tonite? Its rainy day btw, i need a cup of hot chocolate to warm my heart. -Genta-
Message deleted...

Tuesday, July 5, 2016

Maaf di Ujung Waktu

"Yudha udah punya baby, Nav?", tanya Zya polos.
"Entah, aku udah lama banget ga kontak dia", terang Nava.
"Ooh, harusnya dia minta maaf sama kamu dulu tuh biar cepet punya baby", Zya tergelak mendengar pernyataannya sendiri.
"Kok gitu? Apa hubungannya?", tanya Nava.
"Yaaa.. Ga ngerti, gue asal aja kok", Zya berusaha menyudahi perbincangan mereka yang entah ke arah mana.
***
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Nava terus mengingat pernyataan Zya tadi.

Yudha, pria dari masa lalu yang pernah membuka pagi dan menutup malam Nava dengan senyuman. Seketika dengan alasan dijodohkan, memutuskan Nava tanpa meminta persetujuan. Tiga bulan kemudian, Nava mendengar kabar dari Zya bahwa Yudha akan menikah. Dunia Nava sudah runtuh sejak malam dimana Yudha mengakhiri hubungan mereka. Empat tahun bersama seolah tidak menyisakan apapun.

Nava pernah berdoa dalam hati, bahwa sampai kapanpun Yudha tidak akan pernah bahagia. Tidak ada kata maaf. Apa Yudha pikir Nava bukan manusia. Apa Yudha pikir Nava tidak punya hati. Ya, pasti Yudha pikir Nava wanita yang kuat. Cukup kuat untuk merapal doa. Demi langit dan bumi, Nava tidak rela siapapun berbahagia atas sakit yang di dera hatinya.

Apa mungkin karena doanya itu, Yudha belum juga memiliki anak setelah dua tahun pernikahan? Nava mengulang pertanyaan yang berseliweran dikepalanya sejak bertemu Zya di kedai kopi.

***
"De, aku pergi keluar sebentar ya", Yudha meminta ijin pada istrinya, Dea.
"Iya, hati-hati kamu, Mas. Sampaikan maafku untuk Nava", Dea tersenyum lebar mengiringi kepergian suaminya.
Yudha berhasil menghubungi Nava, akhirnya. Sore ini mereka membuat janji untuk bertemu disebuah restoran yang cukup tenang. Yudha memalingkan wajahnya ke arah pintu cukup sering. Setelah tatapan ke-26, sesosok gadis yang ditunggu akhirnya muncul. Nava masih cantik seperti dulu, lebih cantik bahkan. Yudha tidak sadar membatin dalam hati. Sosok yang ia rindukan sejak lama saat ini berdiri dihadapannya. Kikuk. Yudha spontan berdiri menyambut kedatangan Nava dan mempersilahkan ia duduk.
"Hai, kamu apa kabar Nav?", Yudha membuka pembicaraan.
"Baik. Langsung saja katakan apa maksud pertemuan kita hari ini", Nava tidak ingin membuang waktu.
Ia takut jantungnya berdetak lebih cepat. Ia takut Yudha mendengar detak jantungnya. Yudha, pria yang selalu ia rindukan kini duduk dihadapannya. Tuhan, ujian apa lagi yang ingin kamu beri.
"Aku ingin minta maaf", Yudha berusaha menatap mata Nava yang tertunduk.
"Untuk?", Nava pura-pura tidak mengerti.
"Dea, istriku, menitip maaf untukmu juga", Yudha tak kuasa menatap mata Nava yang kini mulai membulat marah.
"Untuk?", gemeretak gigi Nava cukup mengungkapkan apa yang ia rasa saat ini.
"Untuk hari-hari yang pernah aku dan Dea tinggalkan untukmu tanpa sepatah kata", Yudha memelankan suaranya.
Terlalu banyak hari yang Nava telah lewati. Hari ini akan menjadi salah satunya. Hari dimana ia bertemu Yudha. Untuk terakhir kali.
"Aku bukan malaikat", mata Nava mulai berani beradu pandang.
"Kamu boleh membenciku, Nav", jelas Yudha.
"Sudah ku lakukan sejak dulu, kamu ga perlu mempersilakan", Nava mulai ketus.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku dan Dea?", tanya Yudha gelisah.
"Ga ada", tegas Nava.
"Pernikahan ini bukan mauku", Yudha mulai putus asa.
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dahulu. Kamu tau itu. Katakan apa yang ga kamu tau tentangku?", mata Nava menatap Yudha berusaha mencari kejujuran.
"Aku ga tau jika melepasmu akan sesulit ini", ucap Yudha lirih.
Kalau begitu jangan lepaskan aku. Suara-suara dikepala Nava mulai muncul.
"Aku ga bisa menjelaskan kenapa aku ninggalin kamu untuk dijodohkan dengan pilihan Ibu waktu itu", Yudha berusaha memperjelas.
"Kalau begitu jangan", Nava menatap rintik hujan yang mulai turun dijendela.
"Aku selalu berdoa untukmu agar kamu mendapatkan pria baik yang bisa menjagamu, Nav", ucap Yudha tulus.
"Terima kasih untuk doamu. Aku pergi. Selamat tinggal!", Nava pergi tanpa menoleh.
Yudha, aku belum bisa memaafkanmu meskipun aku ingin. Hingga nanti saatnya tiba, tolong menjauh dari kehidupanku.

***

Ceritanya kangen nulis, tapi ga tau mau nulis apa. Berhubung besok Lebaran, saat yang pas buat maaf-maafan dan jadilah cerita ini.

Sebagai manusia, punya rasa marah dan benci itu wajar banget. Saya ga akan meminta untuk mengurangi atau menghindari. Karena proses yang paling penting dari memaafkan adalah menyadari bahwa kamu masih membenci. Atau mencintai. Trust me. Time will heal it.

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri!

Sunday, September 21, 2014

Ketika Saling Membenci

Pernahkan kamu merasa begitu terluka? Ketika dua orang yang kamu sayangi tiba-tiba saling membenci.

Tatapan mata yang dulu berbinar ketika bertemu. Sekarang tajam menghunus seperti pedang. Kata-kata kasar berhamburan. Dari bibir yang dulu pernah saling memuji. Kebencian yang menurut Alena ga seharusnya ada disana.

"Hingga saat ini, aku masih merasa ga da pria yang bisa menjagamu dengan baik selain dia", ucap Alena lirih.

Dia, pria yang katamu ga pernah membelamu di depan ibunya dan memilih membelamu dalam diam demi menjaga hati ibunya. Dia, pria yang katamu selalu memintamu pulang ketika malam tiba dan ga memberimu waktu untuk sekedar menyapa keramaian. Dia, pria yang masih bisa bersabar ditengah naik turunnya emosimu dan tajamnya tatapan mata. Dia, pria yang meskipun pagi ini kamu bentak bahkan sore harinya masih bersedia menyelamatkanmu dari kemacetan ibu kota. Apalagi yang kamu mau, Fey?

"Aku ga pernah meminta dia untuk baik sama aku Al", belamu kala itu.

Pria baik ternyata ga cukup baik untuk membuatmu tetap berada di sampingnya ya? Kamu dengan mudahnya membenci dia. Melupakan semua kebaikan dia. Kamu tau pasti bahwa kamu bukan malaikat kan, Fey? Kamu tidak bisa merekatkan hati yang retak dan patah kembali seperti semula. Kamu tau betul dia terluka.

"Pria yang tulus menyayangimu akan memberi tanpa perlu kamu minta, Fey. Dan itu yang dia lakukan", jelas Alena.
"Kamu ga akan ngerti Al", Fey mulai malas berdebat.
"Fine, buat aku mengerti", putus Alena.

Fey menarik napas yang kini mulai terasa berat. Baginya ini semua sudah berakhir dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Ia merasa lelah. Dengan aturan. Dengan penerimaan keluarganya. Dengan sikapnya yang kekanakan. Dan ini puncaknya.

"Aku menemukan sosok ayah pada pria lain Al, dan itu bukan dia", tegas Fey.
"Ayah sudah lama pergi Fey, seharusnya kamu tau itu", Alena berusaha menghindari tatapan mata Fey.

"Dan satu lagi, kamu ga sepantasnya membenci dia", air mata Alena mulai menggenang di pelupuk mata.

Alena terlalu menyayangi keduanya. Tidak akan ada yang bisa menyamai ayah. Baik dia. Atau siapapun kelak yang jadi pendampingmu. Dan itu bukan pembenaran untuk kamu bisa membenci dia, Fey. Pria yang dulu pernah ada dihidupmu.

"Aku ga ingin memaksamu, apapun yang membuatmu merasa bahagia", Alena menyerah.

Apapun yang Alena katakan, percuma. Ketika waktu menyapa dan kamu tersadar, Fey. Maka berharap semuanya belum terlambat.

Tuesday, May 27, 2014

Pria Pilihan

"Gimana sama ponakannya Tante Myra?"
"....."
"Dia sudah hubungi kamu?"
"Belum"
"Tadi Tante Myra telepon Ibu, katanya Gilang sudah SMS kamu tapi kamu ga bales"
"Ga ada SMS dari Gilang, Bu"
"Dia itu serius mau nikah tahun ini kalau kamu mau. Tante Myra juga bilang kalau Gilang tertarik sama kamu, kamu suka ga?"
"Ga tau, Bu"
"Kok ga tau, Bee?"
Bintang memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Ibu barusan. Melihat anak sulungnya hanya diam saja, Ibu memilih untuk tidak meneruskan pembicaraan mengenai Gilang dan kembali ke kamar.

***

Bintang Putri Aurora, seorang perempuan berusia seperempat abad, yang tidak takut akan apapun. Kehidupan mengajarkan padanya untuk berani menghadapi semua tantangan yang menghadang. Namun setangguh apapun Bintang, ia tetap perempuan yang punya rasa takut. Pada apa? Hanya Bintang yang tahu.

Satu bulan lalu Tante Myra mengenalkan keponakannya, Gilang, pada Bintang. Setelah beberapa kali berusaha menghindar, akhirnya Bintang memutuskan untuk mau dipertemukan. Sore itu Gilang datang bersama Tante Myra. Mereka tidak banyak berbincang. Gilang hanya menimpali sesekali. Bintang lebih banyak berbincang dengan Tante Myra.

Gilang, pria berusia enam tahun lebih tua darinya itu berperawakan tinggi. Wajahnya tidak tampan, namun cukup berwibawa. Gilang tidak seburuk apa yang kamu pikir, hanya bukan tipe pria yang disukai Bintang.

Sulit menjelaskan pada Ibu mengapa Bintang tidak ingin meneruskan perkenalan ini. Ia memang baru bertemu Gilang satu kali. Dan entah mengapa, Bintang merasa Gilang bukan pria yang ia inginkan untuk bersama.

Bintang ragu, bagaimana mungkin Gilang berani menjalani hidup bersamanya, jika untuk menghadapi perempuan lemah seperti dirinya saja ia takut?
"Mungkin Gilang hanya malu dan ga tau gimana cara memulai, Bee"
"Tapi gue ga suka pria pengecut, Kee"
"Lo terlalu cepet menilai Gilang, Bee"
Percakapan Bintang dengan Kinanti, teman baiknya, siang itu sepertinya tidak akan habis jika Bintang terus menyangkal. Bintang memilih untuk diam dan mengalah.

Berani, menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh pasangan Bintang. Berani memulai. Berani menjalani hari-hari bersamanya. Karena Bintang menyadari, ia tidak seberani itu.

Apa Bintang terlalu pemilih? Tentu saja ia harus memilih. Tapi Bintang cukup tahu diri. Ia tidak sesempurna itu untuk mendapatkan pria sempurna yang ia inginkan.
"Jangan bilang lo masih ngarepin si Rendy, cowok brengsek itu!"
"Gue memang masih penasaran sama Rendy, tapi gue ga tau apa gue mau menghabiskan seluruh hidup gue sama dia atau ga. Jadi lo ga usah nuduh sembarangan!"
"Sorry, Bee. Gue cuma mau jagain lo. Gue ga mau si Rendy brengsek itu nyakitin lo lagi!"
"Thanks Kee, tapi gue tau apa yang gue lakuin"
***

To be continue...
Menemukan kisah ini berdebu, dipojokan draft.
Akhirnya dipublish jugak! 

Monday, July 20, 2009

Ada yang salah dengan itu?

Kenalkan, namaku Mawar. Nama yang cantik bukan? Tapi jangan lihat diriku dari namaku. Aku tidak secantik itu. Walaupun aku mengakui bahwa aku sama berdurinya dengan bunga cantik itu. Tapi duri itu tidak akan melukaimu jika kamu tau cara menyentuhku.

Aku hanya ingin bertanya. Apakah kamu pernah melewati satu fase dimana kamu merasa berbeda?

Maksudku, berbeda dari biasanya.

Atau ternyata hanya orang tertentu yang menganggap aku berbeda?

Entahlah.

Setiap manusia adalah unik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya menjadikan mereka sebagai satu paket yang utuh.

Ditambah dengan orang orang sekelilingku yang sangat mensupport dan menyayangi aku, penuh. Menjadikan hidupku sebagai satu paket plus plus yang ga bisa tergantikan dengan apapun.

Aku sadar aku berbeda akir akir ini. Bukan, aku tidak mengkonsumsi obat obat terlarang itu. Tidak, bahkan aku tidak terpikir untuk melacurkan diriku. Tapi aku tau aku dengan sengaja melupakan beberapa hal yang dulu biasa aku lakukan.

Aku menjadi berbeda, begitu kata dia.

Menjadi amat jauh dengan dia, orang yang menganggap aku orang terdekatnya.

"Tapi maaf, hidupku tidak hanya berisi kamu."

Kemarin, aku memang selalu ada disampingnya. Menemaninya jika dia sedang ingin bersenang senang. Mendengarkan tiap detail ceritanya. Mencoba berpikir keras memecahkan masalahnya. Bahkan ketika orang orang sudah terlelap dalam tidurnya, lampu kamar tidurku masih menyala untuknya.

Jika dia mau mengerti, aku masih Mawar yang sama, seperti dulu. Hanya saja, belakangan ini aku sedang cuti.

Iyah. Aku sedang menikmati libur panjangku. Kembali pulang. Ke tempat dimana aku bisa menyandarkan tubuhku yang semakin renta ini. Ke tempat dimana aku bisa mengeluarkan air mata tanpa perlu aku jelaskan mengapa. Ke tempat dimana aku bisa tertawa lebih lepas lagi. Ke tempat dimana seharusnya dari dulu aku berada.

Tidak. Tidak ada yang salah dengan dia. Mungkin dia benar, aku memang berbeda dari biasanya.

"Maaf, jika kamu merasa kehilangan."

Aku rasa dia harus mulai terbiasa dengan itu. Kehilangan akan membuat dia jauh lebih dewasa nantinya.

Lagipula, kadang kita tidak bisa menyenangkan semua orang disekeliling kita, meskipun kita ingin. Selalu ada konsekuensi dari tiap pilihan yang kita buat.

Termasuk pilihan hidupku.

Dan aku terima itu.

Sekali lagi.

"Maaf, aku memang berbeda denganmu."