Sunday, May 21, 2017
Dalam Hitungan Hari,
Sunday, January 15, 2017
Who Are You Without Your Past?
"You're type of woman who always see the past, then set future goals later", he said.
"Wow", I glanced at his brown eyes.
"If you want to be by my side, you should know what will happen with us in the future without looking back", he explained without hesitation.
Who are you without your past?
Pengacau Hati
"Bee, aku lagi di Jakarta anter mama nih, nanti aku mampir ke rumah kamu ya""Kamu dimana?""Tiga puluh menit lagi aku nyampe rumah kamu, aku drop mama dulu ya"
"Yuk, masuk", sapa Bintang.
"Coba liat tangan kamu"
"Mau ngapain sih, Ren?"
"Mau ngukur apa bener tangan kamu lebih kecil dari tangan aku, aku ga percaya soalnya"
"Hahaha.."
"Aku pulang ya, sudah larut"Rendy perlahan melepaskan tautan tangannya. Ia membantu Bintang berdiri dari duduknya. Sebelum Rendy beranjak pergi, ia memegang kedua bahu Bintang. Kemudian mendaratkan bibirnya di ujung kepala Bintang. Bintang hanya bisa terdiam. Semuanya terasa cepat. Apa ini? Bintang tidak tahu apa ia harus mempertanyakan ini pada Rendy atau tidak. Ia hanya bisa tertegun hingga Rendy menghilang dari pandangan.
"Oke"
"Kamu menyadari ada yang beda dari aku, Ren?
"Umm, apa ya.. Kamu lebih pendiam, pesan aku ga ada yang kamu balas satupun"
"Kamu tau kenapa?"
"Ga"
"Kamu beneran ga tau atau pura-pura ga tau, Ren?"
"Beneran ga tau"
"Hmm.. Kenapa kamu melakukan itu dirumahku kemarin?"
"Melakukan apa sih, Bee?"
"Menggenggam tanganku, mencium keningku"
"Oh itu"
"Apa itu yang dilakukan seorang teman?"
"Kita memang sedekat itu kan?"
"Kamu anggap aku apa?"
"Hmm.. Bee bukan maksudku untuk.."
"Kamu anggap aku siapa, Ren?"
"Aku sayang kamu, Bee"
"Lalu?"
"Lalu kita berteman"
***
Dan sebelum jadi jamur dipojokan draft, saya publish aja.
Friday, January 6, 2017
Buram
Sunday, July 31, 2016
Fate
Susah payah Genta membuka framenya. Lengket. Jelas. Sudah lebih dari sepuluh tahun. Mungkin jika Vio ga menyapanya lebih dulu, ia ga akan pernah tau bahwa ada pesan tersembunyi.
Dear Magenta,
If you open this letter now, maybe we're not hold the same hand right now. We were in a different planet. You're there and i'm here. You doing that and i'm doing this. Actually, we're too cute to be separated isn't?
I still remember when first time i saw you. You're a kind man, i know it. And through this letter, i just wanna say that i do care about you. Whatever happen, you always have a place in my life. Be a good man, be a good friend, be a good husband, be a good dad.
That's all i can write to you. If fate bring us one day, maybe we can have a cup of hot chocolate, a good laugh, and warm conversations with pouring rain over the window.
See you when i see you.
Love,
Violetta
Can we have a cup of hot chocolate tonite? Its rainy day btw, i need a cup of hot chocolate to warm my heart. -Genta-
Tuesday, July 5, 2016
Maaf di Ujung Waktu
"Yudha udah punya baby, Nav?", tanya Zya polos."Entah, aku udah lama banget ga kontak dia", terang Nava."Ooh, harusnya dia minta maaf sama kamu dulu tuh biar cepet punya baby", Zya tergelak mendengar pernyataannya sendiri."Kok gitu? Apa hubungannya?", tanya Nava."Yaaa.. Ga ngerti, gue asal aja kok", Zya berusaha menyudahi perbincangan mereka yang entah ke arah mana.
"De, aku pergi keluar sebentar ya", Yudha meminta ijin pada istrinya, Dea."Iya, hati-hati kamu, Mas. Sampaikan maafku untuk Nava", Dea tersenyum lebar mengiringi kepergian suaminya.
Ia takut jantungnya berdetak lebih cepat. Ia takut Yudha mendengar detak jantungnya. Yudha, pria yang selalu ia rindukan kini duduk dihadapannya. Tuhan, ujian apa lagi yang ingin kamu beri."Hai, kamu apa kabar Nav?", Yudha membuka pembicaraan."Baik. Langsung saja katakan apa maksud pertemuan kita hari ini", Nava tidak ingin membuang waktu.
"Aku ingin minta maaf", Yudha berusaha menatap mata Nava yang tertunduk."Untuk?", Nava pura-pura tidak mengerti."Dea, istriku, menitip maaf untukmu juga", Yudha tak kuasa menatap mata Nava yang kini mulai membulat marah."Untuk?", gemeretak gigi Nava cukup mengungkapkan apa yang ia rasa saat ini."Untuk hari-hari yang pernah aku dan Dea tinggalkan untukmu tanpa sepatah kata", Yudha memelankan suaranya.
"Aku bukan malaikat", mata Nava mulai berani beradu pandang."Kamu boleh membenciku, Nav", jelas Yudha."Sudah ku lakukan sejak dulu, kamu ga perlu mempersilakan", Nava mulai ketus."Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku dan Dea?", tanya Yudha gelisah."Ga ada", tegas Nava."Pernikahan ini bukan mauku", Yudha mulai putus asa."Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dahulu. Kamu tau itu. Katakan apa yang ga kamu tau tentangku?", mata Nava menatap Yudha berusaha mencari kejujuran."Aku ga tau jika melepasmu akan sesulit ini", ucap Yudha lirih.
"Aku ga bisa menjelaskan kenapa aku ninggalin kamu untuk dijodohkan dengan pilihan Ibu waktu itu", Yudha berusaha memperjelas."Kalau begitu jangan", Nava menatap rintik hujan yang mulai turun dijendela."Aku selalu berdoa untukmu agar kamu mendapatkan pria baik yang bisa menjagamu, Nav", ucap Yudha tulus."Terima kasih untuk doamu. Aku pergi. Selamat tinggal!", Nava pergi tanpa menoleh.
Sunday, September 21, 2014
Ketika Saling Membenci
Pernahkan kamu merasa begitu terluka? Ketika dua orang yang kamu sayangi tiba-tiba saling membenci.
Tatapan mata yang dulu berbinar ketika bertemu. Sekarang tajam menghunus seperti pedang. Kata-kata kasar berhamburan. Dari bibir yang dulu pernah saling memuji. Kebencian yang menurut Alena ga seharusnya ada disana.
"Hingga saat ini, aku masih merasa ga da pria yang bisa menjagamu dengan baik selain dia", ucap Alena lirih.
Dia, pria yang katamu ga pernah membelamu di depan ibunya dan memilih membelamu dalam diam demi menjaga hati ibunya. Dia, pria yang katamu selalu memintamu pulang ketika malam tiba dan ga memberimu waktu untuk sekedar menyapa keramaian. Dia, pria yang masih bisa bersabar ditengah naik turunnya emosimu dan tajamnya tatapan mata. Dia, pria yang meskipun pagi ini kamu bentak bahkan sore harinya masih bersedia menyelamatkanmu dari kemacetan ibu kota. Apalagi yang kamu mau, Fey?
"Aku ga pernah meminta dia untuk baik sama aku Al", belamu kala itu.
Pria baik ternyata ga cukup baik untuk membuatmu tetap berada di sampingnya ya? Kamu dengan mudahnya membenci dia. Melupakan semua kebaikan dia. Kamu tau pasti bahwa kamu bukan malaikat kan, Fey? Kamu tidak bisa merekatkan hati yang retak dan patah kembali seperti semula. Kamu tau betul dia terluka.
"Pria yang tulus menyayangimu akan memberi tanpa perlu kamu minta, Fey. Dan itu yang dia lakukan", jelas Alena.
"Kamu ga akan ngerti Al", Fey mulai malas berdebat.
"Fine, buat aku mengerti", putus Alena.
Fey menarik napas yang kini mulai terasa berat. Baginya ini semua sudah berakhir dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Ia merasa lelah. Dengan aturan. Dengan penerimaan keluarganya. Dengan sikapnya yang kekanakan. Dan ini puncaknya.
"Aku menemukan sosok ayah pada pria lain Al, dan itu bukan dia", tegas Fey.
"Ayah sudah lama pergi Fey, seharusnya kamu tau itu", Alena berusaha menghindari tatapan mata Fey.
"Dan satu lagi, kamu ga sepantasnya membenci dia", air mata Alena mulai menggenang di pelupuk mata.
Alena terlalu menyayangi keduanya. Tidak akan ada yang bisa menyamai ayah. Baik dia. Atau siapapun kelak yang jadi pendampingmu. Dan itu bukan pembenaran untuk kamu bisa membenci dia, Fey. Pria yang dulu pernah ada dihidupmu.
"Aku ga ingin memaksamu, apapun yang membuatmu merasa bahagia", Alena menyerah.
Apapun yang Alena katakan, percuma. Ketika waktu menyapa dan kamu tersadar, Fey. Maka berharap semuanya belum terlambat.
Tuesday, May 27, 2014
Pria Pilihan
"Gimana sama ponakannya Tante Myra?"".....""Dia sudah hubungi kamu?""Belum""Tadi Tante Myra telepon Ibu, katanya Gilang sudah SMS kamu tapi kamu ga bales""Ga ada SMS dari Gilang, Bu""Dia itu serius mau nikah tahun ini kalau kamu mau. Tante Myra juga bilang kalau Gilang tertarik sama kamu, kamu suka ga?""Ga tau, Bu""Kok ga tau, Bee?"
"Mungkin Gilang hanya malu dan ga tau gimana cara memulai, Bee"Percakapan Bintang dengan Kinanti, teman baiknya, siang itu sepertinya tidak akan habis jika Bintang terus menyangkal. Bintang memilih untuk diam dan mengalah.
"Tapi gue ga suka pria pengecut, Kee"
"Lo terlalu cepet menilai Gilang, Bee"
"Jangan bilang lo masih ngarepin si Rendy, cowok brengsek itu!"***
"Gue memang masih penasaran sama Rendy, tapi gue ga tau apa gue mau menghabiskan seluruh hidup gue sama dia atau ga. Jadi lo ga usah nuduh sembarangan!"
"Sorry, Bee. Gue cuma mau jagain lo. Gue ga mau si Rendy brengsek itu nyakitin lo lagi!"
"Thanks Kee, tapi gue tau apa yang gue lakuin"
Monday, July 20, 2009
Ada yang salah dengan itu?
Aku hanya ingin bertanya. Apakah kamu pernah melewati satu fase dimana kamu merasa berbeda?
Maksudku, berbeda dari biasanya.
Atau ternyata hanya orang tertentu yang menganggap aku berbeda?
Entahlah.
Setiap manusia adalah unik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya menjadikan mereka sebagai satu paket yang utuh.
Ditambah dengan orang orang sekelilingku yang sangat mensupport dan menyayangi aku, penuh. Menjadikan hidupku sebagai satu paket plus plus yang ga bisa tergantikan dengan apapun.
Aku sadar aku berbeda akir akir ini. Bukan, aku tidak mengkonsumsi obat obat terlarang itu. Tidak, bahkan aku tidak terpikir untuk melacurkan diriku. Tapi aku tau aku dengan sengaja melupakan beberapa hal yang dulu biasa aku lakukan.
Aku menjadi berbeda, begitu kata dia.
Menjadi amat jauh dengan dia, orang yang menganggap aku orang terdekatnya.
"Tapi maaf, hidupku tidak hanya berisi kamu."
Kemarin, aku memang selalu ada disampingnya. Menemaninya jika dia sedang ingin bersenang senang. Mendengarkan tiap detail ceritanya. Mencoba berpikir keras memecahkan masalahnya. Bahkan ketika orang orang sudah terlelap dalam tidurnya, lampu kamar tidurku masih menyala untuknya.
Jika dia mau mengerti, aku masih Mawar yang sama, seperti dulu. Hanya saja, belakangan ini aku sedang cuti.
Iyah. Aku sedang menikmati libur panjangku. Kembali pulang. Ke tempat dimana aku bisa menyandarkan tubuhku yang semakin renta ini. Ke tempat dimana aku bisa mengeluarkan air mata tanpa perlu aku jelaskan mengapa. Ke tempat dimana aku bisa tertawa lebih lepas lagi. Ke tempat dimana seharusnya dari dulu aku berada.
Tidak. Tidak ada yang salah dengan dia. Mungkin dia benar, aku memang berbeda dari biasanya.
"Maaf, jika kamu merasa kehilangan."
Aku rasa dia harus mulai terbiasa dengan itu. Kehilangan akan membuat dia jauh lebih dewasa nantinya.
Lagipula, kadang kita tidak bisa menyenangkan semua orang disekeliling kita, meskipun kita ingin. Selalu ada konsekuensi dari tiap pilihan yang kita buat.
Termasuk pilihan hidupku.
Dan aku terima itu.
Sekali lagi.
"Maaf, aku memang berbeda denganmu."
