Showing posts with label idul fitri. Show all posts
Showing posts with label idul fitri. Show all posts

Tuesday, July 5, 2016

Maaf di Ujung Waktu

"Yudha udah punya baby, Nav?", tanya Zya polos.
"Entah, aku udah lama banget ga kontak dia", terang Nava.
"Ooh, harusnya dia minta maaf sama kamu dulu tuh biar cepet punya baby", Zya tergelak mendengar pernyataannya sendiri.
"Kok gitu? Apa hubungannya?", tanya Nava.
"Yaaa.. Ga ngerti, gue asal aja kok", Zya berusaha menyudahi perbincangan mereka yang entah ke arah mana.
***
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Nava terus mengingat pernyataan Zya tadi.

Yudha, pria dari masa lalu yang pernah membuka pagi dan menutup malam Nava dengan senyuman. Seketika dengan alasan dijodohkan, memutuskan Nava tanpa meminta persetujuan. Tiga bulan kemudian, Nava mendengar kabar dari Zya bahwa Yudha akan menikah. Dunia Nava sudah runtuh sejak malam dimana Yudha mengakhiri hubungan mereka. Empat tahun bersama seolah tidak menyisakan apapun.

Nava pernah berdoa dalam hati, bahwa sampai kapanpun Yudha tidak akan pernah bahagia. Tidak ada kata maaf. Apa Yudha pikir Nava bukan manusia. Apa Yudha pikir Nava tidak punya hati. Ya, pasti Yudha pikir Nava wanita yang kuat. Cukup kuat untuk merapal doa. Demi langit dan bumi, Nava tidak rela siapapun berbahagia atas sakit yang di dera hatinya.

Apa mungkin karena doanya itu, Yudha belum juga memiliki anak setelah dua tahun pernikahan? Nava mengulang pertanyaan yang berseliweran dikepalanya sejak bertemu Zya di kedai kopi.

***
"De, aku pergi keluar sebentar ya", Yudha meminta ijin pada istrinya, Dea.
"Iya, hati-hati kamu, Mas. Sampaikan maafku untuk Nava", Dea tersenyum lebar mengiringi kepergian suaminya.
Yudha berhasil menghubungi Nava, akhirnya. Sore ini mereka membuat janji untuk bertemu disebuah restoran yang cukup tenang. Yudha memalingkan wajahnya ke arah pintu cukup sering. Setelah tatapan ke-26, sesosok gadis yang ditunggu akhirnya muncul. Nava masih cantik seperti dulu, lebih cantik bahkan. Yudha tidak sadar membatin dalam hati. Sosok yang ia rindukan sejak lama saat ini berdiri dihadapannya. Kikuk. Yudha spontan berdiri menyambut kedatangan Nava dan mempersilahkan ia duduk.
"Hai, kamu apa kabar Nav?", Yudha membuka pembicaraan.
"Baik. Langsung saja katakan apa maksud pertemuan kita hari ini", Nava tidak ingin membuang waktu.
Ia takut jantungnya berdetak lebih cepat. Ia takut Yudha mendengar detak jantungnya. Yudha, pria yang selalu ia rindukan kini duduk dihadapannya. Tuhan, ujian apa lagi yang ingin kamu beri.
"Aku ingin minta maaf", Yudha berusaha menatap mata Nava yang tertunduk.
"Untuk?", Nava pura-pura tidak mengerti.
"Dea, istriku, menitip maaf untukmu juga", Yudha tak kuasa menatap mata Nava yang kini mulai membulat marah.
"Untuk?", gemeretak gigi Nava cukup mengungkapkan apa yang ia rasa saat ini.
"Untuk hari-hari yang pernah aku dan Dea tinggalkan untukmu tanpa sepatah kata", Yudha memelankan suaranya.
Terlalu banyak hari yang Nava telah lewati. Hari ini akan menjadi salah satunya. Hari dimana ia bertemu Yudha. Untuk terakhir kali.
"Aku bukan malaikat", mata Nava mulai berani beradu pandang.
"Kamu boleh membenciku, Nav", jelas Yudha.
"Sudah ku lakukan sejak dulu, kamu ga perlu mempersilakan", Nava mulai ketus.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku dan Dea?", tanya Yudha gelisah.
"Ga ada", tegas Nava.
"Pernikahan ini bukan mauku", Yudha mulai putus asa.
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dahulu. Kamu tau itu. Katakan apa yang ga kamu tau tentangku?", mata Nava menatap Yudha berusaha mencari kejujuran.
"Aku ga tau jika melepasmu akan sesulit ini", ucap Yudha lirih.
Kalau begitu jangan lepaskan aku. Suara-suara dikepala Nava mulai muncul.
"Aku ga bisa menjelaskan kenapa aku ninggalin kamu untuk dijodohkan dengan pilihan Ibu waktu itu", Yudha berusaha memperjelas.
"Kalau begitu jangan", Nava menatap rintik hujan yang mulai turun dijendela.
"Aku selalu berdoa untukmu agar kamu mendapatkan pria baik yang bisa menjagamu, Nav", ucap Yudha tulus.
"Terima kasih untuk doamu. Aku pergi. Selamat tinggal!", Nava pergi tanpa menoleh.
Yudha, aku belum bisa memaafkanmu meskipun aku ingin. Hingga nanti saatnya tiba, tolong menjauh dari kehidupanku.

***

Ceritanya kangen nulis, tapi ga tau mau nulis apa. Berhubung besok Lebaran, saat yang pas buat maaf-maafan dan jadilah cerita ini.

Sebagai manusia, punya rasa marah dan benci itu wajar banget. Saya ga akan meminta untuk mengurangi atau menghindari. Karena proses yang paling penting dari memaafkan adalah menyadari bahwa kamu masih membenci. Atau mencintai. Trust me. Time will heal it.

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri!

Wednesday, August 14, 2013

Happy Lebaran

Selalu sulit untuk memulai. Entah mengapa. Anw, Happy Lebaran. Lebaran tahun ini tidak banyak yang bisa diceritakan. Bertemu saudara pun tidak. Bertemu orang-orang se-Jakarta, Iya. Mencoba terbiasa dengan keheningan.

Kalo kamu?

Wednesday, September 8, 2010

Menanti Fajar


Dan dia masih terdiam disudut itu. Sudut yang sama ketika terakhir kali mereka bertemu. Menanti Fajar yang tak kunjung datang. Dengan t-shirt putih dan celana jins selutut, dia tetap terlihat cantik diusianya yang mulai matang. Matanya terus menatap ke laut lepas sambil memainkan ujung-ujung rambutnya yang menari disapa angin.

***

"Hai, apa kabar? Masih ingat janji kita?", pikirannya melayang pada rona lusuh beberapa hari lalu.

Tak sengaja dia bertemu lelaki itu disudut sebuah cafe di Jakarta. Semuanya masih sama. Hanya saja garis-garis disekitar mata dan hidung membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Samar-samar dia menangkap bayangan lain disampingnya.

"Ah, sudah punya monyet ternyata", gumam dia dalam hati.

***

Setahun yang lalu, dia mengakhiri semuanya disudut itu. Tentu saja waktu itu keputusan bersama. Dan bersama-sama mereka menulis sebuah janji. Bukan hitam di atas putih. Tanpa materai 6000 yang dibubuhi tandatangan. Apalagi didampingi seorang pengacara. Hanya mereka. Berjanji di dalam hati.
Jika Tuhan mengijinkan. Setahun lagi, kita akan bertemu disini. Berdua. Menata kembali butiran pasir dalam gelas yang Dia sediakan. Mencari celah untuk menyatukan asa yang sempat terbelah.
Dan disanalah dia berada. Menunggu. Menagih janji yang sempat dilontarkan kemarin lalu.

***

"Mentari ya? Fajar menitipkan sesuatu untuk kamu", seorang gadis muda tinggi semampai datang menyodorkan secarik kertas pada dia.

Angin masih membelai lembut wajah Mentari. Ada rasa yang hinggap seketika. Kecewa. Pada Fajar yang mendahului terbitnya matahari. Pada cahaya Mentari yang lemah. Pada gelap malam yang menghapus sinar Mentari dibawah horizon pada pagi hari.

Maaf. Sebuah kata yang tertera pada secarik kertas pemberian gadis muda itu. Dia meremas dan merobeknya hingga kecil seperti butiran pasir.

"Kapan?",  dia menahan agar kristal bening dipelupuk matanya tidak jatuh terbawa air.
"Kemarin malam. Hujan. Dia kehilangan kendali. Mobilnya menabrak pembatas jalan", dengan sungkan gadis itu duduk disamping dia.
"Sebelum dia pergi malam itu, dia memintaku untuk menyerahkan secarik kertas pada gadis bernama Mentari", tanpa diminta gadis bernama Gea itu mulai bercerita.
"Apa isinya?", Gea mengalihkan pandangan pada mata Mentari.
"Hanya maaf", Mentari menyingkirkan helai rambut yang menutup mata bulatnya.

Dia berdiri. Meninggalkan jejak kaki dihamparan pasir. Yang tak berapa lama lalu hilang dibawa pasangnya air.

***
*pict taken from here

Inspite of all, saya hanya ingin minta maaf setulus hati. Terutama pada orang-orang yang kenal saya secara personal. Maaf terkadang jadi momok menakutkan buat saya. Takut itu hanya menjadi sekedar ucapan yang tidak diimbangi dengan perbuatan dan rasa percaya luntur karenanya.

Tapi saya percaya Tuhan beri saya teman, saudara, dan keluarga yang sangat baik. Meskipun jejak langkah kaki saya begitu membekas dihamparan pasir, pasangnya air akan memberi banyak sisi positif yang bisa saya bawa hingga akhir nanti.

Maaf lahir bathin, kawan ^_^

Saturday, September 19, 2009

H-1 to Lebaran Days

H-1 SMS datang bertubi tubi. Bahkan 2 hari sebelumnya ga jarang permintaan maaf sudah terdampar di inbox henpon gw, takut provider sibuk katanya kalo ngirim pas hari H. Apalagi sekarang uda ada situs jejaring sosial seperti facebook yang mempermudah terlaksananya permintaan maaf tanpa batasan ruang dan waktu. Tinggal pasang status atau tulis di wall atau tag foto dan permintaan maaf ke semua orang, beres sudah. Ditambah lagi lewat twitter, plurk, dan situs jejaring sosial serta wadah microblogging lainnya.

Jika begitu, minta maaf ketika hari raya idul fitri seakan akan hanya menjadi ritual yang wajib dilakukan.

Gw mengerti, electronic ways memang memudahkan orang orang untuk melakukan aktifitas mereka, termasuk dalam hal minta maaf. Apalagi ditujukan untuk orang orang yang terpisah jauh secara ruang dan waktu.

Basically, gw tidak pernah mempermasalahkan cara orang menyampaikan maafnya atau pada momen apa mereka meminta maaf.

Selama niat lo baik, maaf lo tulus. Mau orang yang lo mintain maaf, maafin lo atau ga, itu bukan urusan lo lagi.

Hanya saja, apakah maaf memaafkan hanya berputar pada ruang maya dan hanya berlandaskan ketulusan?



ps: Hepppiii Lebarann Days, friends! :)