Sunday, October 12, 2014

Dear No One

Lagi suka dengerin lagunya Dear No One dari Tori Kelly. Ga ada alasan khusus sih, hanya suka gitu aja waktu pertama kali denger Ghaitsa Kenang nyanyiin lagu ini di ajang Raising Star Indonesia.

Ngulik-ngulik liriknya, kok ya pas gitu. Hahaha, pas lagi galau waktu itu ceritanya.

Yah jadi curhat kan! *tepok jidat*

Well, jadi ketika itu saya lagi dalam masa-masa bosen ditanyain "jadi lagi deket sama siapa?", "kapan nikah?", "jangan pilih-pilih", atau yang lebih ekstrim "kok belum lahiran? perut uda buncit gitu!". Pake nada sopran pula. Minta ditimpuk. Timpuk pake kasih sayang aja gimana? Hahaha...

Yaaa.. milih itu perlu sih menurut saya. Ga da yang mau beli kucing dalam karung juga kan. Tinggal kadar milihnya aja yang mudu pas.

Jadi... Jika kamu merasa hidupmu udah sempurna karena uda punya pasangan dan terpenuhi segala keinginanmu, bantu doa aja ya, bantu ngenalin juga boleh deh.

Karena bukan mau saya untuk ga punya pasangan, beneran deh. Deep down inside, saya mau kok punya pasangan. And yes, someone come and go in my life. Hanya memang it doesn't work aja.

Tapi kamu dan saya selalu punya pilihan kan? Entah itu untuk diem aja meratapi nasib atau terus menikmati hidup ke depannya. And i choose the second one.

So, please, stop asking me. Stop asking someone out there the same question like you did to me. Mungkin kamu hanya care, tapi ga tiap ketemu ditanya juga kan. Dan seperti kata Tori Kelly dalam lagunya.

Cause when the time is right he'll be here, but for now, dear no one..

Enjoy this song!


I like being independent
Not so much of an investment
No one to tell me what to do
I like being by myself
Don’t gotta entertain anybody else
No one to answer to

But sometimes, I just want somebody to hold
Someone to give me their jacket when its cold
Got that young love even when we’re old
Yeah sometimes, I want someone to grab my hand
Pick me up, pull me close, be my man
I will love you till the end

So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song

I don’t really like big crowds
I tend to shut people out
I like my space, yeah
But I’d love to have a soul mate
God will give him to me someday
And I know it’ll be worth the wait

So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song

But sometimes, I just want somebody to hold
Someone to give me their jacket when its cold
Got that young love even when we’re old
Yeah sometimes, I want someone to grab my hand
Pick me up, pull me close, be my man
I will love you till the end

So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song

Sunday, October 5, 2014

Sesederhana Itu

Kau membuka pagiku.
Dan juga menutup malamku.
Sesederhana itulah aku menginginkanmu.

Saturday, October 4, 2014

Rekreasi

Sekitar lima atau enam bulan lalu, saya sempat mengisi beberapa rubrik di sebuah majalah anak-anak. Berawal dari kebosanan yang mendera hidup *duileeeh*, saya menawarkan diri untuk menulis pada seseorang. Nulis apa aja saya mau deh *murahan*.

Singkat cerita, saya langsung meng-iya-kan ketika tawaran itu menghampiri. Ga perlu pikir panjang. Pun ga punya ekspektasi macam-macam. Kalaupun karya saya ga diterima at least saya sudah mencoba. Sesuatu di luar kebiasaan.

Alhamdulillahnya beliau bisa menerima bahasa saya yang sulit dicerna anak-anak itu, haha. Karena saya ga ngerti nulis yang baik sesuai EYD itu seperti apa. Berbekal bacaan dari jaman SD dulu, i let my imagine lead the words. Berimaji bahwasanya saya adalah seorang anak kecil yang ingin tahu segalanya. And it was fun!

Kesukaan saya pada anak-anak dan dunianya. Serta keinginan untuk berbagi nilai-nilai yang orang-orang terdekat ajarkan ketika saya kecil dulu, juga menjadi alasan mengapa saya harus menjawab iya tanpa pikir panjang.

And here i am. Kembali menulis untuk rubrik yang berbeda. Setelah beberapa bulan terakhir sempat terhenti karena satu dan lain hal.

Menulis untuk anak-anak itu bagi saya seperti rekreasi. Mengalihkan perhatian sejenak pada apa yang kamu tau bisa membahagiakanmu agar kamu tetap "waras" di tengah kehidupan yang semakin menggila. Sesederhana itu.

Untuk kamu, mungkin ini hal yang biasa. Untuk saya, kebahagiaan tersendiri ketika seseorang bisa menerima dan memberi apresiasi. Seseorang, yang bahkan rupanya pun kamu ga tau. Apalagi bisa menanamkan nilai-nilai positif pada bibit-bibit kecil, yang mungkin saja jadi pemimpin besar di masa depan.

***

Maka berhati-hatilah pada tiap kata yang keluar dari mulutmu. Mungkin saja Dia sedang memperhatikan dan tetiba mengabulkan inginmu.

It's never too late to have a happy childhood - Tom Robbins

Wednesday, October 1, 2014

Tragedi Busway

Saya mulai kisahnya ya...

Alkisah di jaman Siti Nurbaya, Agnes Monicah *suka-suka saya mo jadi siapa* mo jalan-jalan naek busway. Pada sebuah shelter, Agnes masuk ke dalam busway yang penuh sesak. Mata kedip-kedip cari bangku kosong *kedip-kedip ama cacingan beda tipis emang*. Ternyata penuh sodara-sodara. Alhasil Agnes gelantungan sepanjang jalan.

Di depan Agnes, duduk seorang wanita muda berkerudung, yang selanjutnya kita sebut saja wanita itu Mawar. Saking asiknya gelantungan, Agnes ga sadar jikalau sedari tadi Mawar memperhatikan dirinya. Merasa GR, Agnes memberikan senyum terbaiknya pada Mawar.

Prikitiwww... *ini Agnes apa Sule sih* 😒

Detik demi detik berlalu. Ga lama kemudian, tiba-tiba Mawar nyolek Agnes yang lagi gelantungan sambil bengong mikirin nasip.

"Mba, duduk mba"
"Oh iya makasih, War!" *sok ikrib*

Duh, untung aja ada si Mawar mo turun. Agnes jadi ga cape gelantungan deh. Lalu Agnes pun duduk dan nerusin lamunannya yang kepotong tadi.

Kelewat beberapa shelter, kondisi busway agak lowong dikit. Lah kok ndilalahnya si Mawar masih di dalem busway, kenapa dia ga turun ya? Agnes heran! Apakah Mawar tiba-tiba hilang ingatan dia musti turun dimana. Ataukah ini hanya fatamorgana Agnes belaka. Malah Agnes liat Mawar turun di shelter terakhir. Samaan kita!

***

Dikasi duduk di dalam busway sama orang yang ga dikenal itu rasanya... Bingung.. Mudu terharu senang karena ada yang peduli... atau justru senewen karena dikira ibu hamil!

Sakitnya tuh disiniiiiii... *sodorin perut*

Sunday, September 21, 2014

Ketika Saling Membenci

Pernahkan kamu merasa begitu terluka? Ketika dua orang yang kamu sayangi tiba-tiba saling membenci.

Tatapan mata yang dulu berbinar ketika bertemu. Sekarang tajam menghunus seperti pedang. Kata-kata kasar berhamburan. Dari bibir yang dulu pernah saling memuji. Kebencian yang menurut Alena ga seharusnya ada disana.

"Hingga saat ini, aku masih merasa ga da pria yang bisa menjagamu dengan baik selain dia", ucap Alena lirih.

Dia, pria yang katamu ga pernah membelamu di depan ibunya dan memilih membelamu dalam diam demi menjaga hati ibunya. Dia, pria yang katamu selalu memintamu pulang ketika malam tiba dan ga memberimu waktu untuk sekedar menyapa keramaian. Dia, pria yang masih bisa bersabar ditengah naik turunnya emosimu dan tajamnya tatapan mata. Dia, pria yang meskipun pagi ini kamu bentak bahkan sore harinya masih bersedia menyelamatkanmu dari kemacetan ibu kota. Apalagi yang kamu mau, Fey?

"Aku ga pernah meminta dia untuk baik sama aku Al", belamu kala itu.

Pria baik ternyata ga cukup baik untuk membuatmu tetap berada di sampingnya ya? Kamu dengan mudahnya membenci dia. Melupakan semua kebaikan dia. Kamu tau pasti bahwa kamu bukan malaikat kan, Fey? Kamu tidak bisa merekatkan hati yang retak dan patah kembali seperti semula. Kamu tau betul dia terluka.

"Pria yang tulus menyayangimu akan memberi tanpa perlu kamu minta, Fey. Dan itu yang dia lakukan", jelas Alena.
"Kamu ga akan ngerti Al", Fey mulai malas berdebat.
"Fine, buat aku mengerti", putus Alena.

Fey menarik napas yang kini mulai terasa berat. Baginya ini semua sudah berakhir dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Ia merasa lelah. Dengan aturan. Dengan penerimaan keluarganya. Dengan sikapnya yang kekanakan. Dan ini puncaknya.

"Aku menemukan sosok ayah pada pria lain Al, dan itu bukan dia", tegas Fey.
"Ayah sudah lama pergi Fey, seharusnya kamu tau itu", Alena berusaha menghindari tatapan mata Fey.

"Dan satu lagi, kamu ga sepantasnya membenci dia", air mata Alena mulai menggenang di pelupuk mata.

Alena terlalu menyayangi keduanya. Tidak akan ada yang bisa menyamai ayah. Baik dia. Atau siapapun kelak yang jadi pendampingmu. Dan itu bukan pembenaran untuk kamu bisa membenci dia, Fey. Pria yang dulu pernah ada dihidupmu.

"Aku ga ingin memaksamu, apapun yang membuatmu merasa bahagia", Alena menyerah.

Apapun yang Alena katakan, percuma. Ketika waktu menyapa dan kamu tersadar, Fey. Maka berharap semuanya belum terlambat.